Keluarga Andri Menyerahkan kepada Polisi

Kompas.com - 17/07/2009, 19:04 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Walaupun ledakan di Hotel JW Marriott membuat anak kesembilannya, Andri Maulana (23), dari 11 bersaudara dirawat di RS Jakarta, tetapi sang ayah, Marsadi, merasa tidak kesal. "Saya tidak merasa kesal atas kejadian ini. Saya merasa ini terjadi karena takdir Allah," kata Marsadi saat ditemui sedang menjenguk Andri di RS Jakarta, Jumat (17/7).

Marsadi menuturkan, kabar Andri menjadi korban datang dari pihak RS Jakarta. "Mereka menelepon saya. Saat ditelepon saya sedang menonton televisi yang menayangkan peristiwa ledakan di JW Marriott dan Ritz-Carlton," ungkapnya.

Andri mendapat luka di kepala bagian belakang dan tangan kanan. Saat dipindahkan dari Ruang Aster ke Ruang Yasmin, tampak Andri mendapat bantuan oksigen untuk pernapasannya.

Terhadap kejadian ini, Imas, ibu korban, merasa tidak ada firasat apa pun. Andri yang tinggal di Jalan Cendrawasih Kompleks P&K RT 04/6 Blok B No 50 Ciputat pun beraktivitas seperti biasa. Menurutnya, Andri berprofesi sebagai banket. "Waktu ledakan Andri terlempar keluar," ungkapnya.

Saat peristiwa itu terjadi, menurut Refol, sepupu korban yang juga datang untuk menjenguk, Andri sedang sarapan. "Saat ini kondisinya belum stabil," katanya.

Terlukanya Andri akibat ledakan bom membuat Imas tampak shock. Hanya wajah sedih yang mewakili apa yang ia rasakan.

Hal berbeda terjadi pada Marsadi. "Sebagai pria saya bisa menahan hal ini. Saya serahkan semuanya pada Allah SWT," ungkapnya.

Untuk para pelaku pengeboman, Marsadi menambahkan, pihak keluarga berharap polisi bisa segera menangkapnya. "Kita serahkan saja pada pihak polisi," tandas Marsadi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau