Hotel Bintang Empat dan Lima Perketat Pengamanan

Kompas.com - 17/07/2009, 19:12 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Pascaledakan di dua hotel di Jakarta, pengelola hotel berbintang empat dan lima di DI Yogyakarta memperketat pengamanan. Selain menerapkan prosedur pengamanan sesuai standard, mereka juga bekerja sama dengan aparat kepolisian.  

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DI Yogyakarta Istidjab M Danunagoro mengatakan, pihaknya telah menerima imbauan dari pihak kepolisian untuk memperketat pengamanan. Petugas keamanan diminta untuk memeriksa setiap tamu yang datang dan mengaktifkan alat deteksi.  

Imbauan tersebut sudah kami sampaikan ke anggota PHRI. Selama ini petugas security di hotel sudah mencukupi. Namun, mulai Jumat hingga Senin mendatang, pengamanan hotel akan diperkuat oleh empat anggota Brimob (Brigade Mobil) yang berjaga selama 24 jam, jelasnya, Jumat (17/7).

Menurut dia, peningkatan pengamanan lebih diperlukan di hotel berbintang empat dan lima karena selama ini sasaran kejahatan bom lebih banyak ditujukan ke hotel-hotel semacam itu. Meski begitu, ia lebih mengkhawatirkan dampak ledakan terhadap bisnis hotel secara umum. Ledakan semacam ini akan membuat turis-turis membatalkan kunjungannya ke Indonesia. Sekarang pun sudah ada tamu hotel yang membatalkan pesanan kamarnya. Padahal, mereka semua berencana menghabiskan long weekend di Yogyakarta, ujarnya.

Di Hotel Hyatt Regency Yogyakarta, pengamanan hotel tetap dilakukan seperti biasa. Public Relations Officer Stella Amirta mengatakan, pihaknya sudah terbiasa menerapkan prosedur pengamanan standar terhadap semua jenis ancaman, mulai dari bom sampai bencana alam. "Kami juga menjalin kerja sama dengan kepolisian," tuturnya.

Stella menambahkan, ledakan di Jakarta akan berdampak bagi hotel. Namun, sejauh ini kamar-kamar di Hyatt sudah habis dipesan dan belum ada yang membatalkan pesanannya.

Secara terpisah, pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada Tony Prasetiantono mengatakan bahwa ledakan di Jakarta akan membawa dampak negatif bagi perekonomian. Setelah pemilu yang berlangsung aman, dunia melihat Indonesia dengan positif. "Kepercayaan pelaku ekonomi meningkat. Dengan kejadian ini orang jadi takut ke Indonesia, investor juga takut," katanya.

Untuk mengembalikan kepercayaan pasar, menurutnya, pemerintah harus menunjukkan keseriusannya dalam menangani kasus ini. Tindakan nyata harus segera diambil, yakni dengan mengungkap penyebab ledakan secepat mungkin.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau