JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerhati teror bom, Hermawan Sulistyo, menyebut bahwa militer dapat menjadi sasaran berikutnya dalam teror bom di Indonesia menyusul adanya ledakan bom di JW Marriott dan Ritz-Carlton, Jumat (17/7) pagi. Hal ini terlihat berdasarkan pola teror bom yang terjadi di dunia.
"Kalau bicara soal pola, bisa jadi akan masuk ke militer," kata lelaki yang akrab disapa Kiki ini, di sela-sela diskusi mingguan bertema 'Bom Lagi', di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (18/7).
Kiki menjelaskan, pola teror bom di seluruh dunia menunjukkan, teror bom dilakukan mulai dari sasaran kosong, kemudian dilakukan dengan sasaran ke warga sipil yang dekat dengan orang, dan terakhir sasarannya adalah militer.
"Lihat saja pas bom di parkiran BEI itu, sasarannya kosong. Kalau kita lihat teror sekarang itu sudah masuk ke hotel. Kalau waktu di Amerika dulu, teror itu sebenarnya kan sasarannya Pentagon," ujarnya.
Namun, ia menegaskan, pola teror bom itu terjadi di dunia. Sementara itu, pola di Indonesia belum tentu akan sama. Kalau dibandingkan, lanjutnya, teror bom di luar negeri selalu diikuti dengan ancaman, sedangkan di Indonesia tidak pernah diawali dengan ancaman. "Kalau ada ancamannya itu biasanya justru tidak ada bomnya, seperti ancaman bom di KPK kemarin," ucapnya.
Menurutnya, perlu dilakukan investigasi dan penelusuran untuk mengetahui motif peledakan bom di JW Marriot dan Ritz Carlton tersebut. Sebab, teror bom itu perlu biaya, keberanian, dan nyawa. "Nah, maksudnya apa di Indonesia ini. Itu harus dicari," pungkasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang