Pola Teror Bom, Sasaran Berikutnya Militer

Kompas.com - 18/07/2009, 10:08 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerhati teror bom, Hermawan Sulistyo, menyebut bahwa militer dapat menjadi sasaran berikutnya dalam teror bom di Indonesia menyusul adanya ledakan bom di JW Marriott dan Ritz-Carlton, Jumat (17/7) pagi. Hal ini terlihat berdasarkan pola teror bom yang terjadi di dunia.

"Kalau bicara soal pola, bisa jadi akan masuk ke militer," kata lelaki yang akrab disapa Kiki ini, di sela-sela diskusi mingguan bertema 'Bom Lagi', di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (18/7).

Kiki menjelaskan, pola teror bom di seluruh dunia menunjukkan, teror bom dilakukan mulai dari sasaran kosong, kemudian dilakukan dengan sasaran ke warga sipil yang dekat dengan orang, dan terakhir sasarannya adalah militer.

"Lihat saja pas bom di parkiran BEI itu, sasarannya kosong. Kalau kita lihat teror sekarang itu sudah masuk ke hotel. Kalau waktu di Amerika dulu, teror itu sebenarnya kan sasarannya Pentagon," ujarnya.

Namun, ia menegaskan, pola teror bom itu terjadi di dunia. Sementara itu, pola di Indonesia belum tentu akan sama. Kalau dibandingkan, lanjutnya, teror bom di luar negeri selalu diikuti dengan ancaman, sedangkan di Indonesia tidak pernah diawali dengan ancaman. "Kalau ada ancamannya itu biasanya justru tidak ada bomnya, seperti ancaman bom di KPK kemarin," ucapnya.

Menurutnya, perlu dilakukan investigasi dan penelusuran untuk mengetahui motif peledakan bom di JW Marriot dan Ritz Carlton tersebut. Sebab, teror bom itu perlu biaya, keberanian, dan nyawa. "Nah, maksudnya apa di Indonesia ini. Itu harus dicari," pungkasnya. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau