JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik memprediksi, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia untuk tahun 2009 ini akan turun antara 20-30 persen. Meski turun, jumlah kunjungan wisman ke Indonesia tahun ini diharapkan tetap diatas jumlah kunjungan pada tahun 2007 lalu.
Jero Wacik, kepada para wartawan di Jakarta Media Center, Sabtu (18/7) malam, meramalkan, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara tahun ini hanya mencapai 5,5 juta orang. Angka tersebut tidak termasuk jumlah kunjungan wisatawan nusantara. "Setiap peristiwa meledaknya bom, pasti akan terjadi penurunan jumlah kunjungan. Tapi, kalau perbaikannya cepat dan langkahnya tepat, semua itu akan bisa diatasi," katanya.
Jero Wacik menyatakan, berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya, seperti peristiwa bom Bali I, Bom Bali II, peristiwa kerusuhan Mei 1998, jumlah kunjungan wisman ke Indonesia dipastikan menurun.
Peristiwa kerusuhan Mei 1998, lanjut Jero Wacik, telah mengakibatkan penurunan jumlah wisatawan dari lima juta orang pada tahun 1997 menjadi hanya 4,3 juta orang. Kemudian, pada peristiwa bom Bali I, jumlah kunjungan wisatawan dari sebelumnya 5,1 juta orang menjadi hanya 4,4 juta orang. "Pada peristiwa bom Bali II, dari semula 5,3 juta kunjungan menjadi hanya 4,8 juta kunjungan saja," katanya.
Jero Wacik mengatakan, saat ini, sebenarnya kondisi kepariwisataan Indonesia sedang bagus-bagusnya. Jero menyatakan, sektor pariwisata Indonesia tahun ini sebenarnya sedang mengalami puncak kejayaannya. Dirinya menyesalkan terjadinya peristiwa bom bunuh diri ini karena akan memilki dampak yang sangat signifikan terhadap jumlah dan revenue dari sektor pariwisata Indonesia.
Pada tahun 2008, dengan jumlah kunjungan wisman mencapai 6,4 juta orang, revenue yang diperoleh negara dari sektor ini mencapai 7,4 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 80 triliun. Angka ini didapat dengan asumsi tiap wisatawan menghabiskan uang senilai 1.178 dollar AS. "Untuk tahun ini, dengan asumsi hanya 5,5 juta wisman, revenue yang diperoleh negara hanya sekitar Rp 60 triliun saja," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang