Pengebom Hotel Marriott Lewati "Metal Detector" dengan Tenang

Kompas.com - 21/07/2009, 08:46 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Ada data terbaru mengenai tindakan teroris yang meledakkan dua hotel mewah, JW Marriott dan Ritz-Carlton, di Mega Kuningan, lima hari lalu. Pelaku bom bunuh diri di Marriott yang diyakini sebagai Nur Said ini melewati pemindai logam (metal detector) dengan tenang.

Barang-barang bawaannya pun diperiksa petugas keamanan, tetapi ia lolos tanpa dicurigai. Adapun seorang pengebom di Hotel Ritz-Carlton sempat salah menyebut nomor kamar saat ditegur petugas. Namun, ia nekat masuk ke restoran, kemudian memesan kopi sebelum meledakkan bom.

CCTV di Hotel Ritz-Carlton merekam seseorang yang mencurigakan yang mengenakan pakaian dan perlengkapan yang dibawa Nur Said, pria yang diduga pengebom di Hotel JW Marriott. Laki-laki berbadan sedang itu mengenakan jaket hitam dan membawa tas.

Bedanya, tas yang dibawa laki-laki ini adalah tas ransel yang disandang di dada, bukan di punggung. Dia terlihat sedikit tertatih-tatih membawa tas jinjing, mungkin karena berat. Ia memindahkan bawaan dari tangan kiri ke kanan.

Laki-laki ini berjalan lurus, dalam terowongan dari arah Marriott menuju Ritz-Carlton, lalu masuk ke coffee shop atau Restoran Airlangga. Sebelum masuk restoran, dia sempat ditegur seorang laki-laki penerima tamu (guester).

Seorang sumber menyebutkan, penerima tamu menyapa laki-laki itu yang akan masuk ke Restoran Airlangga. "Selamat pagi Pak. Maaf, dari kamar nomor berapa?" kata penerima tamu sedikit membungkukkan badan kepada laki-laki yang diduga teroris itu. Sang tamu menjawab, "Kamar 2701."

Maksudnya lantai 27 kamar nomor 01. Penerima tamu heran karena Hotel Ritz-Carlton hanya sampai pada lantai 26.

Saat disanggah, sang tamu berkata, "Oh iya, saya sudah janjian dengan teman. Dia menunggu di restoran." Setelah itu, dia berjalan bergegas menuju tangga, bukan lift, naik ke Restoran Airlangga. Beberapa detik kemudian terjadi ledakan dahsyat. Ledakan terjadi pukul 07.57, 10 menit setelah ledakan di Ritz-Carlton.

Adapun pengebom yang direkam CCTV di Hotel JW Marriott diduga Nur Said alias Nur Sahid alias Nuri Hasdi alias Nur Hasbi alias Nurdin Aziz. Ia datang ke hotel menumpang taksi warna biru.

Dia tiba dan check in ke hotel berbintang lima itu pada 15 Juli pukul 15.01. Dia menurunkan tas beroda hitam yang biasa dipakai bepergian. Satu tas jinjing lainnya menggantung di bahu. Laki-laki berperawakan sedang ini mengenakan jaket hitam dan topi pet abu-abu.

Sesaat setelah melewati pintu hotel, dia bertemu dengan petugas kemanan hotel. Barang-barang bawaannya lalu diangkat petugas untuk diperiksa. Pada saat bersamaan, laki-laki itu melintasi pemindai logam. Baik Nur Said maupun kedua tasnya lolos tanpa hambatan.

Berdasarkan data Marriott, sebelum masuk hotel, seseorang laki-laki memesan kamar hotel melalui nomor telepon seluler 08788XXX. Pemesan mengatakan akan menginap mulai tanggal 15.

Setibanya di meja resepsionis, saat check in, Nur Said menggunakan kartu tanda penduduk palsu dengan nama Nur Hasbi beralamat di Pondok Pinang, Tangerang. Ketika check in, pelaku membayar tunai sewa kamar selama tiga hari seharga 1.400 dollar AS (setara Rp 14 juta dengan kurs 1 dolar AS = Rp 10.000).

Sewa kamar paling murah di Marriott sekitar Rp 1,4 juta per malam, sedangkan kamar yang lebih mahal Rp 4 juta-Rp 60 juta per malam. Biasanya petugas hotel minta pembayaran lebih di depan sebagai jaminan kalau tamu memanfaatkan mini bar dalam kamar.

Tiga hari kemudian, yakni pada hari peledakan, Jumat (17/7), Nur Said juga terekam CCTV pada pukul 07.47. Sama persis seperti ketika kedatangannya ke hotel, mengenakan jaket hitam, topi pet, menyeret satu tas beroda, dan menjinjing satu tas lainnya. (tig)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau