Cekakak-Hutan Melayu, Burung Bermahkota Hijau

Kompas.com - 21/07/2009, 08:56 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Ibarat raja yang bermahkota, itulah cekakak-hutan melayu (Actenoides concretus). salah satu jenis burung yang masuk dalam seri perangko "Pusaka Hutan Sumatera". Cekakak-hutan memiliki mahkota hijau yang khas di kepalanya.

Di Indonesia, burung jenis ini tersebar di Sumatera, termasuk pulau-pulau lepas pantainya, Kalimantan, dan Jawa. Persebarannya yang terbatas pada hutan dengan tutupan tajuk rapat di kawasan dengan tingkat deforestasi cukup tinggi membuat populasinya terus menurun. International Union for Conservation of Nature (IUCN) mengelompokkan burung jenis ini dengan status "Mendekati Terancam Punah" (Near Threatened/NT).

Cekakak-hutan melayu berukuran sedang, panjangnya 23 cm, sedangkan bulunya berwarna biru dan merah karat. Cekakak-hutan jantan memiliki sayap menyerupai mantel biru, bagian bawah tubuhnya berwarna merah karat, dan memiliki garis hitam pada matanya. Cekakak-hutan betina memiliki sayap (mantel) berwarna hijau tua berbintik kuning.

Layaknya burung daerah Indonesia bagian barat lainnya, Cekakak-hutan memiliki suara yang unik dan khas. Pada umumnya, mereka bersuara keras. Siulannya meninggi dan berbunyi "kwii-kwii...". Uniknya, setiap siulan tersebut dihasilkan sekitar satu nada per detik.

Burung jenis ini tinggal di dalam hutan dan berburu dari tenggeran rendah. Tidak seperti suaranya yang keras, burung ini ternyata agak pemalu. Mereka hanya mencari mangsa dari atas tanah dengan membalik-balikkan dedaunan.

Dalam proses perkembangbiakannnya, telur dihasilkan pada bulan yang berbeda di Sumatera dan Kalimantan. Di Sumatera, telur dihasilkan pada bulan Maret, sedangkan di Kalimantan, telur dihasilkan pada bulan Desember-Maret. Mereka bersarang di atas tanah dekat aliran sungai, kadang di batang pohon mati, atau di dasar hutan yang miring berjarak 16-17 m dari aliran sungai. Sekali bertelur, cekakak-hutan menghasilkan dua butir telur. Selama proses perkembangbiakan, anaknya akan berada di sarang selama 22 hari.

Mari kita selamatkan cekakak-hutan melayu dari deforestasi hutan yang membuat populasinya terganggu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau