KAHMI: Pilpres 2009 Terburuk Sepanjang Sejarah RI

Kompas.com - 21/07/2009, 19:05 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) menilai, Pemilu Presiden 2009 merupakan pesta demokrasi terburuk sepanjang Indonesia berdiri. Pilpres berlangsung dengan kekurangan, meski Indonesia sudah berkali-kali melakoni hajatan nasional tersebut.

Hal ini ditegaskan Ketua Umum Pimpinan Majelis Nasional KAHMI Fuad Bawazier seusai bertemu dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Selasa (21/7).

"Walaupun yang menang ini adalah JK, tetap penilaian KAHMI ini adalah pilpres terjelak," ujar Fuad.

Menurut Fuad, KAHMI tidak mempunyai kebanggaan atas penyelenggaraan Pilpres 2009. Pasalnya, kekurangan dan kelemahan yang terjadi semestinya tidak terjadi pada negeri yang berkali-kali melaksanakan pemilu dan pilpres.

"Ibu Megawati boleh berbangga, Pemilu 2004 berjalan bagus, Pak Habibie juga pemilunya bagus. Pak Soeharto kurang demokratis tapi tidak ada masalah dengan DPT. Begitu juga dengan Bung Karno," urainya.

Kehadiran Fuad Bawazier di Istana Wapres sedianya melaporkan perihal kesepakatan bersama islah KAHMI versi presidium dan presidensial yang dilakukan pada 30 Juni lalu. Kesepakatan bersama yang disaksikan Jusuf Kalla dan Akbar Tandjung yang sama-sama menjadi Wakil Ketua Dewan Penasihat KAHMI.

Menurut rencana, penyatuan dua organisasi akan ditindaklanjuti dengan kegiatan Munas bersama KAHMI pada 10 Oktober mendatang.

Munas KAHMI tersebut menjadi resepsi peringatan hari ulang tahun ke-43 KAHMI dan silaturahim Idul Fitri keluarga besar KAHMI.

Turut hadir pada pertemuan bersama Kalla antara lain Ketua Harian Presidium Majelis Nasional KAHMI Abdul Asri Harahap.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau