JAKARTA, KOMPAS.com — Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) menilai, Pemilu Presiden 2009 merupakan pesta demokrasi terburuk sepanjang Indonesia berdiri. Pilpres berlangsung dengan kekurangan, meski Indonesia sudah berkali-kali melakoni hajatan nasional tersebut.
Hal ini ditegaskan Ketua Umum Pimpinan Majelis Nasional KAHMI Fuad Bawazier seusai bertemu dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Selasa (21/7).
"Walaupun yang menang ini adalah JK, tetap penilaian KAHMI ini adalah pilpres terjelak," ujar Fuad.
Menurut Fuad, KAHMI tidak mempunyai kebanggaan atas penyelenggaraan Pilpres 2009. Pasalnya, kekurangan dan kelemahan yang terjadi semestinya tidak terjadi pada negeri yang berkali-kali melaksanakan pemilu dan pilpres.
"Ibu Megawati boleh berbangga, Pemilu 2004 berjalan bagus, Pak Habibie juga pemilunya bagus. Pak Soeharto kurang demokratis tapi tidak ada masalah dengan DPT. Begitu juga dengan Bung Karno," urainya.
Kehadiran Fuad Bawazier di Istana Wapres sedianya melaporkan perihal kesepakatan bersama islah KAHMI versi presidium dan presidensial yang dilakukan pada 30 Juni lalu. Kesepakatan bersama yang disaksikan Jusuf Kalla dan Akbar Tandjung yang sama-sama menjadi Wakil Ketua Dewan Penasihat KAHMI.
Menurut rencana, penyatuan dua organisasi akan ditindaklanjuti dengan kegiatan Munas bersama KAHMI pada 10 Oktober mendatang.
Munas KAHMI tersebut menjadi resepsi peringatan hari ulang tahun ke-43 KAHMI dan silaturahim Idul Fitri keluarga besar KAHMI.
Turut hadir pada pertemuan bersama Kalla antara lain Ketua Harian Presidium Majelis Nasional KAHMI Abdul Asri Harahap.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang