Disbudpar Datangkan Arkeolog Teliti Keris 1,5 Meter

Kompas.com - 22/07/2009, 03:22 WIB

Kuala Kapuas, Kalteng, Kompas.com--Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah (Kalteng) akan mendatangkan arkeolog untuk meniliti keris dan kacip (alat pembelah buah pinang) sepanjang 1,5 meter temuan dua orang penyelam tradisonal.

"Kami sudah menghubungi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalteng untuk melakukan penelitian terhadap kedua benda bersejarah tersebut," kata Kepala Bidang Kebudayaan Disporabudpar Kabupaten Kapuas, Yuliani Asi, kepada pers di Kuala Kapuas, Selasa.

Berdasarkan hasil pengamatan langsung oleh pihaknya, kedua benda tersebut merupakan benda peninggalan sejarah yang dibuat sekitar abad 18.

Namun untuk kepastiannya, harus terlebih dahulu menunggu hasil penelitian dari arkeolog.

Atas hasil temuan kedua warga tersebut, pihaknya akan melaporkan kepada Bupati Kapuas dan meminta bantuan agar benda tersebut dapat dijaga oleh pihak kepolisian.

"Kita juga minta kepada penemu benda tersebut untuk tidak menjual kepada kolektor benda bersejarah karena itu benda budaya yang dilindungi Undang-Undang," katanya.

Keris dan kacip berukuran besar tersebut ditemukan oleh Wawan (21) dan Yanto (28) warga RT 2 Kelurahan Murung Keramat, Kecamatan Selat, yang sehari-harinya berkerja sebagai penyelam tradisional pada Kami, 9 Juli 2009 sekitar pukul 15.00 WIB di bawah jembatan Pulau Telo, Kecamatan Selat.

Penemuan benda tersebut berawal ketika keduanya berangkat melakukan rutinitas sebagai penyelam di sungai Kapuas untuk mencari benda-benda di dasar sungai seperti kayu, besi, dan barang lainnya yang memiliki nilai jual.

Ketika itu, Wawan bertugas selaku penyelaman, sedangkan Yanto menjaga perahu dengan mengontrol kompresor sebagai alat bantu pernapasan.

Sekitar pukul 15.00 wib, Wawan selaku penyelaman muncul ke permukaan sungai dengan membawa sebatang besi dan terkejut mengetahui benda yang didapatnya itu adalah benda berupa senjata keris dengan tujuh kelokan dan berukuran besar.

"Ketika saya temukan, keris menancap kedalam tanah dengan posisi miring, hanya bagian pangkal saja yang tidak terbenam kedalam tanah," ujarnya.

Setelah mendapatkan benda tersebut, Wawan mencoba kembali menyelam dengan rasa penasaran, dan kembali kembali menemukan yang juga berukuran raksasa, tak jauh dari lokasi ditemukannya keris.

Keris yang ditemukan tersebut memiliki ukiran-ukiran di pangkalnya dengan gagagng yang sudah tidak ada lagi.

Sedangkan kacip, bagian ujungnya berbentuk menyerupai burung Tingang yang menjadi ciri khas Dayak Kalteng, memiliki rantai pada bagiang ujung gagang, pada atas kacip terdapat bulatan besi yang melingkar dan berjejer.

Mengetahui adanya penemuan keris dan kacip berukuran besar, hingga saat ini warga masih berbondong-bondong ingin melihat dari dekat hasil temuan Wawan dan Yanto tersebut.

Menurut Wawan, terdapat beberapa kejanggalan ketika para pengunjung ada yang berani menyentuh keris tersebut, tangan akan merasa seperti kaku.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau