Winarto Herusansono
KOMPAS.com-Sehari-hari, Dusun Katekan, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, adalah dusun yang tenang dan sejuk. Warga lereng Gunung Sindoro itu umumnya bertani tembakau dan menunggu masa panen Agustus nanti.
Namun, sejak beberapa hari terakhir televisi menyiarkan kabar bahwa salah seorang warga Katekan diduga pelaku peledakan bom di Hotel JW Marriott. Warga itu adalah Nur Hasdi alias Nur Hasbi alias Nur Sahid. Ia anak Muhammad Nasir (60).
Rumah Muhammad Nasir itulah yang hari-hari ini banyak didatangi wartawan dan polisi. Bahkan, polisi itu membawa Muhammad Nasir, istrinya, Tuminem, dan salah seorang anaknya yang juga adik Nur Hasdi, Safrudin, Senin (20/7) subuh.
”Pak Muhammad Nasir tampaknya dijemput sekitar pukul 05.00 dengan menggunakan dua mobil Kijang. Dua mobil itu tiba setengah jam sebelum subuh. Petugas langsung menjemput Pak Nasir, Tuminem, dan Safrudin. Ketiganya diajak pergi tanpa sempat mandi,” kata Suwabadi, Kepala Urusan Umum Desa Katekan. Tidak jelas dibawa ke mana mereka.
Suwabadi, yang mengaku saudara jauh Muh Nasir, mengatakan, Nur Hasdi selama ini dikenal orang yang pendiam dan rajin mengaji. Nur Hasdi juga sudah punya istri, Prastiwi, asal Klaten.
Warga lainnya, Yuyun, mengemukakan, sudah hampir lima tahun Muh Nasir juga kehilangan kontak dengan Nur Hasdi. Kabarnya, istri Nur Hasdi belakangan juga jarang pulang ke Klaten.
Rumah Muh Nasir sendiri kemarin terlihat sepi. Pintu-pintunya tertutup rapat. Bagian yang terbuka hanya lorong di samping rumah, isinya ember-ember, keranjang, dan alat-alat untuk merajang tembakau. Di kaca besar depan rumah terpampang stiker ”Masuk Ruangan Ini Ucapkan Assalamu’alaikum”. Selain itu, ada pula stiker nomor 159, nomor urut Muh Nasir sebagai pelanggan air bersih unit pengolahan Multi Guna Karya Mulia, Ngadirejo.
Masih ada satu lagi anak Muh Nasir yang masih tinggal di rumah di Katekan, yaitu Ma’ruf, anak bungsunya. Ma’ruf-lah yang Selasa kemarin dicari-cari wartawan.
Setiyo (26), warga desa lain, mengantar sejumlah wartawan guna bertemu Ma’ruf. ”Kalau tidak salah, dia (Ma’ruf) tidak ikut dijemput oleh petugas. Kalau dia masih di rumah, tidak ke ladang tembakau, kita bisa ketemu,” ujar Setiyo sambil menyusur gang-gang sempit di antara kepadatan rumah penduduk Desa Katekan.
Kontur gang itu naik turun, seperti umumnya ciri permukiman di lereng Gunung Sindoro yang terletak di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Sepanjang jalan, sejumlah penduduk, terutama kaum perempuan, berdiri di depan pintu rumah masing-masing. Mereka memandang para tamu yang berjalan tergesa-gesa mengikuti langkah Setiyo.
”Wah, si Ma’ruf tidak ada, tadi katanya pamit ke ladang tembakau,” kata Budi, anak Suyarno, warga desa lainnya lagi, saat menyambut para tamunya. Mendengar jawaban Budi, pupus sudah harapan para wartawan untuk bertemu Ma’ruf untuk mengorek informasi terkini.
Tokoh masyarakat Desa Katekan, H Ibrahim, yang rumahnya di bawah rumah Suyarno, mencegat Kompas seraya menanyakan, ”Baru kali pertama ya ke Dusun Katekan.” H Ibrahim mengatakan, ia dan warga pada umumnya kaget salah satu warganya disebut-sebut menjadi pelaku bom bunuh diri di Jakarta.
”Kami di dusun kebanyakan petani tembakau, sedang menunggu masa panen yang diperkirakan Agustus nanti. Tembakau sedang bagus-bagusnya, tetapi kok ada kabar lain,” ujar Ibrahim.
Kepala Dusun Katekan, Kukuh, mengakui, sejak ada kabar bahwa ada warga dusun tersebut menjadi teroris, yang muncul adalah keprihatinan. ”Janganlah desa kami disebut sarang teroris. Orangtua pelaku saja tidak tahu bagaimana kabar anaknya sejak lama,” ujar Kukuh. Dusun Katekan di Desa Katekan ini memiliki 540 keluarga atau sekitar 2.000 jiwa. Sementara di seluruh Desa Patekan jumlah penduduknya 1.100 keluarga.
Penolakan terhadap stigma Desa Katekan sebagai tempat teroris juga muncul dari sejumlah warga. Sejak stigma daerah teroris itu muncul, warga setempat enggan berbicara dengan orang asing, apakah wartawan atau petugas.
Desa ini termasuk maju karena jalan penghubung desa mulai dari kota Temanggung hingga gang di rumah Muh Nasir sudah beraspal dan kondisinya mulus. Lokasi desa hanya berjarak 25 kilometer dari kota Temanggung atau 2 kilometer dari jalur jalan alternatif Temanggung-Parakan-Weleri-Kendal.
”Pendapatan dari hasil tembakau lumayan, rata-rata sekali panen Rp 3 juta-Rp 7 juta. Ini jika penjualan tembakau mencapai harga Rp 80.000 per keranjang dengan isi 30-40 kilogram per keranjang,” kata Suwabadi.
Bom di Jakarta, 17 Juli lalu, membuat Desa Katekan terkenal. Namun, keterkenalan ini justru tidak dikehendaki warga desa itu. ”Saya juga prihatin, Ma’ruf yang selama ini rajin ke ladang kini entah ke mana. Istrinya pun, Heni, dan anak semata wayangnya juga tidak di rumah. Padahal, laki-laki jebolan SMP itu rajin ke ladang tembakau,” ujar Suwabadi.
Namun, stigma sarang teroris itu telanjur melekat....
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang