Teknologi dalam Penanggulangan Terorisme

Kompas.com - 22/07/2009, 06:12 WIB

NINOK LEKSONO

KOMPAS.com-Peranan teknologi dalam penangkalan dan pemberantasan terorisme telah disinggung oleh Makmur Keliat, pakar ilmu hubungan internasional, di harian ini, Selasa (21/7).

Ada dua hal yang dapat digarisbawahi dari artikel tersebut. Pertama, apa yang dikutip dari Paul Bracken bahwa ”cara terbaik untuk mengalahkan teroris adalah dengan menembus sel-selnya”. Yang kedua, ketidakmampuan dinas intelijen Indonesia mencegah kejutan strategis teroris, dalam hal ini dikaitkan dengan ketidakmampuan mendapatkan informasi, yang bisa jadi terkait dengan keterbatasan teknologi.

Makmur menegaskan, teknologi—pada sisi lain—bukan segala-galanya. AS yang memiliki teknologi canggih pun kewalahan menghadapi teroris. Itulah yang terjadi, dengan kecanggihan teknologi yang dimilikinya, upaya untuk menangkap Osama bin Laden sejauh ini tak membuahkan hasil dan pada masa lalu tidak kuasa mencegah serangan 11 September 2001. Terorisme juga pernah mengguncang negara maju seperti Inggris dan Spanyol.

Satu hal yang sulit disangkal, pascaterjadinya serangan teroris, negara-negara maju lalu menerapkan kebijakan dan sistem yang efektif sehingga, misalnya, setelah serangan 11 September tidak lagi terjadi serangan teror di AS, demikian pula di Inggris dan Spanyol. Ini berbeda dengan Indonesia, yang setelah terjadi bom Bali I masih ada bom Bali II, dan setelah Marriott I ada Marriott II, plus Kedubes Australia dan lainnya.

Seperti disebut dalam situs BomDetection, melawan terorisme dibutuhkan perencanaan strategis, integrasi teknologi, pelatihan terstruktur, adanya kebijakan dan prosedur yang berkembang (mengikuti kebutuhan keamanan), juga strategi kolektif dengan badan-badan pemerintah, kontraktor pertahanan, integrator sistem, dan tempat-tempat (yang mungkin sasaran teror).

BomDetection adalah sekadar contoh bisnis yang berkembang seiring dengan merebaknya aktivitas teror di berbagai penjuru dunia. Bergerak di bawah bendera AI (American Innovation), usaha ini menawarkan kemitraan untuk bermacam-macam upaya penanggulangan terorisme. Keahlian yang ditawarkan meliputi penangkalan serangan kimia, biologi, radiologi, nuklir, dan bahan peledak (konvensional).

Aneka deteksi dan inspeksi

Sebagaimana disaksikan penonton TV, teknologi yang banyak dimanfaatkan sebagai sarana prevensi adalah teknologi kamera video, yang terus meningkat resolusinya. Resolusi yang lebih baik diharapkan bisa lebih memperjelas orang-orang yang dicurigai. Dari tayangan TV Indonesia memang tampak ketajaman citra video masih kurang. Berikutnya, teknologi yang telah banyak digunakan adalah sistem inspeksi sinar-X, baik untuk skrining maupun untuk imaging, apakah untuk surat, paket, dan bahkan kargo.

Satu perlengkapan lain yang semestinya semakin banyak dipasang adalah explosives detection chemistry (EDC) dan explosives trace detectors (ETD). Inilah alat yang sebenarnya semakin vital karena bahan peledak sejauh ini merupakan senjata pilihan bagi teroris. Tantangan bagi petugas keamanan bisa dikatakan ada di sini. Ini pula tantangan bagi badan atau perusahaan yang menawarkan jasa penanggulangan terorisme. Di satu sisi bahan peledaknya makin canggih, di sisi detektornya, demikian pula keahlian untuk mendeteksinya, memiliki keterbatasan.

Penyedia jasa penanggulangan terorisme, dengan demikian, sangat tertantang untuk menciptakan alat deteksi yang mudah digunakan, bahkan oleh mereka yang sebelumnya tidak berpengalaman mendeteksi bahan peledak, sementara alat deteksi baru ini akan mampu mendeteksi bahan peledak jenis apa pun, tentunya termasuk jenis yang berdaya ledak tinggi, seperti C4, TNT, dan PETN.

Sistem deteksi jejak bahan peledak kreasi AI yang dikenal dengan nama XD-2i menggunakan ilmu kimia analitik khusus untuk mendeteksi bahan peledak. ETD bisa dengan cepat dan andal mendeteksi bahan peledak komersial, militer, dan buatan rumahan, seperti bahan peledak cair, serbuk hitam, nitroselulosa, bubuk senapan tanpa asap, ANFO, nitrat, nitro-aromatik, bahan peledak plastik, peroksida, klorat, dan lainnya.

Di luar alat

Seperti juga disinggung dosen filsafat politik Armada Riyanto, dalam tulisannya di harian ini kemarin, Erich From telah mengingatkan bahwa teror merupakan produk tindakan sistematis. Ada rancangan, kepastian metodologi, target, sistem perekrutan, pelatihan, organisasi, dan tentu ideologi.

Karena itu pula, langkah untuk menghadapinya pun tidak bisa dengan langkah setengah-setengah, apalagi asal-asalan. Dengan pengalaman tragis beberapa kali di Tanah Air, tampak jelas bahwa selain alat/sarananya tidak memadai, konsepnya pun tampaknya perlu dirombak total.

Di ujung depan, seperti dikemukakan Makmur Keliat, pastilah dibutuhkan penyegaran struktur dan kerja intelijen. Seperti dikemukakan pengamat militer F Djoko Poerwoko, saat ini di Indonesia hanya ada satu badan intelijen strategis, yakni Badan Intelijen Negara. Di Australia ada lima, yakni Office of National Assessments (ONA), Australian Secret Intelligence Service (ASIS), Australian Security Intelligence Organisation (ASIO), Defence Intelligence Organisation (DIO), dan Defense Signal Intelligence (DSI) (Angkasa, Edisi Koleksi, ”Menguak Tabir Operasi Intelijen dan Spionase”, 2009).

Tentu Australia ingin menjalankan operasi intelijen secara tajam, spesifik. Negara yang dihadapkan pada tantangan intelijen akut seperti Indonesia jelas membutuhkan dukungan operasi dinas intelijen yang canggih.

David Owen dalam bukunya, Hidden Secrets: A Complete History of Espionage, and the Technology Used to Support It (2002), menjelaskan sejumlah istilah yang relevan dengan urusan kita hari-hari ini, yakni HUMINT (human intelligence) untuk pengintaian manusia, SIGINT (signal intelligence) yang terkait penguraian pesan dan analisis trafik, ELINT (electronic intelligence) yang melibatkan sensor jarak jauh dan pengintaian satelit. Tidak kalah seru false intelligence, yang di dalamnya ada upaya-upaya pengelabuan, misinformasi, dan agen ganda.

Semua negara kini makin menempatkan intelijen sebagai prioritas, menyusun rencana agar intelijen lebih cerdas. AS melakukan ini karena setiap saat harus menghadapi lawan-lawan baru yang dilengkapi senjata yang makin mengerikan, kemampuan komunikasi dan koordinasi makin maju dan andal. Semua itu membuat AS harus mengubah cara mengumpulkan dan menganalisis intelijen, dan menerjemahkannya dalam kebijakan.

Ketika ada momentum bom di Ritz-Carlton dan Marriott, bukan hanya AS yang harus melakukan langkah di atas. Ini juga saatnya bagi Indonesia meng-overhaul dinas intelijennya, baik struktur, operasi, maupun teknologi yang diterapkannya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau