Ada yang Bingung, Ada Juga yang Beruntung...

Kompas.com - 22/07/2009, 14:53 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Di tengah banyaknya orangtua yang masih bingung dan mengeluh ihwal Sekolah Gratis yang tidak benar-benar gratis, ada juga orangtua murid yang mengaku beruntung.

IA (43), misalnya. Di matanya, sistem sekolah gratis saat ini kian membantu. "Dengan adanya sekolah gratis ini semakin meringankan beban saya," katanya, di halaman SD Pejaten Barat 10 Pagi, Jakarta, Rabu (22/7).

Menurut IA, SD yang sekarang menjadi tempat anaknya belajar merupakan SD negeri yang bebas biaya. Sejauh ini, biaya yang dia keluarkan hanya untuk membeli seragam.

"Biaya-biaya yang seharusnya buat bayar sekolah kini dapat saya tabung untuk masa depan anak saya," tuturnya.

Sampai ini, lanjut dia, memang tidak ada biaya apa pun untuk keperluan sekolah. Semua kebutuhan, terutama buku-buku, hanya dipinjamkan oleh sekolah. Uang gedung tidak ada, SPP rutin bulanan pun begitu.

"Hanya saja tiap minggu setiap orangtua murid wajib membayar kas sebesar Rp 2.000, kas diperlukan jika sewaktu-waktu ada keperluan mendadak untuk si anak," tuturnya.

Keberuntungan yang sama juga dialami oleh NK (39). Menurutnya, menyekolahkan anak sekarang ini dirasanya lebih ringan. NK mengakui tidak terlalu banyak biaya dibebankan kepada orangtua murid untuk keperluan sekolah anaknya di SD Pejaten Barat 09 Pagi.

"Tidak banyak mengeluarkan anggaran dan mutu pendidikannya juga sudah lumayan bagus, kami senang karena tak lagi dibebankan bermacam biaya," katanya.

Pun, hingga saat ini, NK mengaku belum ada rapat orangtua murid untuk membicarakan ihwal keuangan. Besar kemungkinan, kata dia, hal itu baru dilakukan bulan depan.

"Memang belum ada pemberitahuan resmi dari pihak sekolah, tapi berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, sekolah tidak akan membebankan biaya yang memberatkan orangtua," ujarnya.

Sementara itu, pengakuan cerita IA, dalam rapat orangtua murid yang lalu, pihak sekolah memberitahukan ada sebagian murid yang akan menerima bantuan dari orangtua asuh. Namun, pihak orangtua murid tidak tahu-menahu asal-muasal bantuan sebesar Rp 60.000 per anak tersebut.

"Karena kondisi bangunan sekolah yang kurang bagus, kami, para orangtua murid sepakat mengalihkan dana tersebut untuk pembangunan perbaikan," tambahnya.

IA berharap, semoga pendidikan Indonesia terus gratis sehingga anaknya bisa terus sekolah serta menjadi anak pintar dan sukses. Sekolah gratis, ujarnya, sangat dibutuhkan terutama bagi orang yang tak mampu agar bisa terus sekolah.

"Sehingga jangan ada anak yang terlantar karena putus sekolah," tuturnya.

Senada IA, NK berharap pemerintah konsisten dengan program Sekolah Gratis. "Saya hanya berharap pemerintah terus memperhatikan nasib orang-orang yang tidak mampu, sehingga keterbatasan biaya tidak akan menghalangi niat mereka untuk menyekolahkan anak-anaknya," timpal NK. (M3-09)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau