KUPANG, KOMPAS.com — Babi oleh warga pelosok Nusa Tengggara Timur tidak dikandangkan. Hewan ternak itu dibiarkan berkeliaran bebas, seperti anjing dan ayam yang mencari makan di alam.
Alhasil, makanannya kebanyakan rumput dan tanaman hijau ketimbang sisa-sisa makanan dari si majikan. Kadang babi diberi masakan sayur dan ubi yang dimasak, persis santapan manusia.
Di Dusun II Mela, Desa Mela, Noebana, Kabupaten Timor Tengah Selatan, sebanyak 449 kepala keluarga memelihara babi. Satu rumah rata-rata mempunyai 1-2 babi. Babi kampung begitu istilah yang disematkan warga.
Di Mela, babi-babi yang berwarna coklat dan hitam itu berkeliaran di dalam rumah. Babi juga menurut majikan yang biasa memberi makan. Si babi akan menguntit ke mana pun majikannya pergi jika masih di area rumah. Jika merasa senang, ekor si babi pun bergoyang-goyang, persis anjing.
"Pagi hingga sore, babi berkeliaran cari makan. Babi bisa pulang sendiri atau kadang saya panggil. Babi kenal suara saya," ujar Bastian Ato, Kepala Dusun II Mela.
Daging babi kampung lebih enak ketimbang babi di peternakan. Babi di peternakan atau disebut warga babi belanda karena kulitnya pink lebih berlemak. Jika babi peternakan, pada usia delapan bulan bisa berbobot 80 kg, babi kampung hanya 40-50 kg. Tubuh ramping babi kampung karena lebih banyak gerak.
Yane Laos, warga Dusun II Suni, Desa Suni Noebana, mengatakan, babi selalu makan. "Kalau pas di kandang, babi minta perhatian. Kalau lapar dan ingin makan, babi teriak-teriak ribut," ujarnya.
Babi biasanya hanya dikonsumsi sendiri. Kalau toh dijual harganya Rp 35.000. Karena sering berkeliaran di jalan, bahkan kadang sampai jalan raya, babi kadang tertabrak mobil.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang