Di NTT Memelihara Babi seperti Memelihara Anjing

Kompas.com - 23/07/2009, 09:50 WIB

KUPANG, KOMPAS.com — Babi oleh warga pelosok Nusa Tengggara Timur tidak dikandangkan. Hewan ternak itu dibiarkan berkeliaran bebas, seperti anjing dan ayam yang mencari makan di alam.

Alhasil, makanannya kebanyakan rumput dan tanaman hijau ketimbang sisa-sisa makanan dari si majikan. Kadang babi diberi masakan sayur dan ubi yang dimasak, persis santapan manusia.

Di Dusun II Mela, Desa Mela, Noebana, Kabupaten Timor Tengah Selatan, sebanyak 449 kepala keluarga memelihara babi. Satu rumah rata-rata mempunyai 1-2 babi. Babi kampung begitu istilah yang disematkan warga.

Di Mela, babi-babi yang berwarna coklat dan hitam itu berkeliaran di dalam rumah. Babi juga menurut majikan yang biasa memberi makan. Si babi akan menguntit ke mana pun majikannya pergi jika masih di area rumah. Jika merasa senang, ekor si babi pun bergoyang-goyang, persis anjing.

"Pagi hingga sore, babi berkeliaran cari makan. Babi bisa pulang sendiri atau kadang saya panggil. Babi kenal suara saya," ujar Bastian Ato, Kepala Dusun II Mela.

Daging babi kampung lebih enak ketimbang babi di peternakan. Babi di peternakan atau disebut warga babi belanda karena kulitnya pink lebih berlemak. Jika babi peternakan, pada usia delapan bulan bisa berbobot 80 kg, babi kampung hanya 40-50 kg. Tubuh ramping babi kampung karena lebih banyak gerak.

Yane Laos, warga Dusun II Suni, Desa Suni Noebana, mengatakan, babi selalu makan. "Kalau pas di kandang, babi minta perhatian. Kalau lapar dan ingin makan, babi teriak-teriak ribut," ujarnya.

Babi biasanya hanya dikonsumsi sendiri. Kalau toh dijual harganya Rp 35.000. Karena sering berkeliaran di jalan, bahkan kadang sampai jalan raya, babi kadang tertabrak mobil.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau