Tak Ada Generasi Tua Golkar yang Punya Reputasi

Kompas.com - 23/07/2009, 14:20 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Tak baik bila memisah-misahkan generasi tua dan generasi muda dalam pemilihan Ketua Umum Partai Golkar ke depannya. Kalaupun generasi tua yang terpilih diharapkan dapat mengakomodasi peran generasi muda dalam tubuh partai berlambang pohon beringin ini ke depannya.

Selain itu, pemimpin baru Golkar harus memiliki reputasi baik. Sayangnya, menurut pengamat politik Yudi Latief dari Reform Institute, tak satu pun generasi tua Golkar yang memiliki reputasi baik.

"Aburizal terganjal masalah. Agung Laksono pencitraannya buruk. Warisan yang tua-tua itu kalau dijadikan tipe pemimpin jangan berharap deh, ada presiden terpilih dari Golkar. Saya kira perlu untuk mencari yang segar," ujar Yudi dalam diskusi di ruang pers DPR RI, Kamis (23/7), tanpa menyinggung calon tua lainnya, Surya Paloh.

Yudi mengatakan, reputasi baik diperlukan untuk membangun citra Partai Golkar yang saat ini nyaris tenggelam. Jika citra di dalam masyarakat tidak dibangun, paradigma baru Golkar yang sebenarnya sudah dibangun dalam internal partai tentu akan mentah untuk pertarungan di 2014.

Pemimpin baru ke depannya, ungkap Yudi, juga harus memiliki kemampuan untuk merekrut kader-kader yang dapat menghimpun simpul-simpul masyarakat di tingkat bawah dan terlibat langsung membangun komunikasi yang intensif dengan akar rumput.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau