Pasar Skutik Akan Melonjak 31 Persen

Kompas.com - 24/07/2009, 06:11 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pasar skuter otomatik (skutik) sepanjang tahun ini akan melonjak 31 persen menembus 2,1 juta unit dibanding tahun lalu sebesar 1,6 juta unit. Perubahan tren konsumen dari motor bebek ke skutik membuat kontribusinya meningkat lebih besar tahun ini.

Bahkan, dari data yang dipaparkan PT Astra Honda Motor (AHM), pada periode Januari-Juni 2009, total penjualan motor dengan sistem berpenggerak continious variabel transmision (CVT) ini tercatat mencapai 929.000 unit. Bahkan, diprediksi permintaannya akan terus meningkat menjadi 1,2 juta unit pada semester kedua 2009.

Mengacu data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), semester pertama tahun ini, pasar skutik masih didominasi oleh Yamaha dengan market share sebesar 54,4 persen, diikuti Honda (36,9 persen), Suzuki (8,7 persen).

Direktur Pemasaran PT Astra Honda Motor (AHM) Julius Aslan menjelaskan, pasar skutik mampu tumbuh positif di saat pasar motor secara keseluruhan terpukul krisis finansial global. "Untuk itu, kita berencana menambah kapasitas produksi pabrik untuk produk ini dari 60.000 menjadi 100.000 unit per bulan (naik sebesar 66,6 persen) mulai Agustus (2009) ini, tapi bertahap tentunya. Untuk merealisasikan ini, kita telah menyuntikkan dana sebesar Rp 140 miliar," paparnya di Jakarta, Kamis (23/7).

Untuk 2009, diperkirakan kontribusi produk skutik melonjak menjadi 39,6 persen dari pasar motor nasional yang dipatok sekitar 5,3 juta unit. Jumlah ini meningkat dari komposisi 2008 sebelumnya yang hanya mencapai 26 persen dari total pasar 6,2 juta unit.

"Lonjakan penjualan skutik ini akan menggerus porsi motor bebek dari 65 persen pada 2008 menjadi 52 persen pada akhir tahun ini," ujarnya.

Salah satu alasan peralihan konsumen ke skutik karena melemahnya penjualan motor di luar Jawa yang selama ini banyak menyerap segmen bebek. Imbasnya, penjualan skutik kian membesar karena banyak dikonsumsi masyarakat kota.

Kondisi ini pula yang menyebabkan rival utama merek sayap mengepak ini, Yamaha, sempat melampaui penjualannya pada Juni lalu. Minimnya produksi AHM untuk produk skutik diklaim sebagai satu-satunya alasan tertinggalnya penjualan ATPM.

"Pada bulan lalu, selisih penjualan di segmen bebek masih dimenangkan kami sebesar 39.000 unit dan sport 1.000 unit. Tapi di skutik kita tertinggal 42.000 unit dari mereka akibat kapasitas skutik kita terbatas sehingga jadi terlampaui akibat melonjaknya penjualan di segmen skutik," ungkapnya.

Over take

Dengan kondisi ini, maka ATPM mengaku akan menggeber penjualan produk bebek Honda untuk menjauhi gap dengan Yamaha di segmen ini sambil menunggu peningkatan kapasitas produksi skutik pada Agustus. Oleh karena itu, dengan strategi ini, Honda berharap bisa kembali membalikkan posisi (over take) penjualan pada Juli ini.

"Kami melihat situasi perekonomian mulai membaik. Suku bunga sudah mulai turun dan landing rate juga ikut turun, diharapkan situasi ini bisa sedikit membantu penyerapan produk bebek di luar Pulau Jawa sehingga meningkatkan gap dengan yang lain," ungkapnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau