Jalan Imam Bonjol Ditutup, Sejumlah Pengguna Jalan Mengeluh

Kompas.com - 24/07/2009, 11:23 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pengamanan Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang semakin diperketat sejak Kamis (23/7) kemarin, diikuti dengan penutupan Jalan Imam Bonjol di dua arah, baik dari arah Imam Bonjol menuju Bundaran Hotel Indonesia maupun dari Bundaran HI menuju Jalan Imam Bonjol. Hal ini dikeluhkan sejumlah pengguna kendaraan bermotor yang akan melewati Jalan Imam Bonjol.

Bakti (27), seorang pengendara sepeda motor yang melintas di Jalan HOS Cokroaminoto, mengeluh karena tidak bisa mengarahkan kendarannya ke Jalan Imam Bonjol.

"Bakti dihentikan petugas kepolisian yang berjaga, tepat saat akan membelokkan sepeda motornya yang berwarna hitam, di perempatan Jalan Imam Bonjol. "Mau ke mana mas," tanya petugas kepolisian tersebut. Mendengar itu, Bakti menjawab tanpa membuka helm yang dikenakannya. "Mau ke Sudirman," jawab Bakti.

Petugas kepolisian itu kemudian menghalau Bakti dan mempersilakannya untuk terus melewati Jalan HOS Cokroaminoto dan mencari jalan alternatif lain. Akhirnya, sambil ngomel Bakti melanjutkan perjalanan. "Wah gimana sih ini kok pakai ditutup-tutup," kata Bakti mengeluh.

Hal yang sama juga dikeluhkan seorang karyawan KPU yang tidak mau disebutkan namanya. Menurutnya, dirinya terpaksa berjalan kaki dari Jalan Teluk Betung menuju Kantor KPU karena angkutan umum yang ditumpanginya tidak melewati Jalan Imam Bonjol.

Wanita berambut cepak ini menggunakan bus jalur 67 jurusan Blok M-Senen. Karena penutupan jalan, bus ini hanya berjalan dari arah Bundaran HI terus berbelok ke kiri menuju Jalan Teluk Betung. Padahal, biasanya bus tersebut melaju lurus ke arah Jalan Imam Bonjol.

"Biasanya turun tepat di depan KPU, terus tinggal nyeberang. Ini harus berjalan dari ujung jalan itu," ujarnya.

Karena ini, ia mengaku rugi waktu sekitar 10 menit. Namun, ia memaklumi hal ini dilakukan demi keamanan Kantor KPU serta menjaga kelancaran jalannya proses rekapitulasi penghitungan suara tingkat nasional dan penetapannya.

"Ya sehat sih. Biasanya tidak pernah jalan. Maklumlah ini demi keamanan. Tetapi terlalu berlebihan kalau alasannya hanya demi keamanan. Seharusnya ditutup satu arah saja," tuturnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau