Afrika selatan

Zuma Berjanji Segera Bantu Warga Miskin

Kompas.com - 25/07/2009, 03:34 WIB

Johannesburg, Jumat - Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma berjanji memberikan fasilitas pelayanan publik yang lebih baik, seperti air dan perumahan, dalam upaya untuk mengakhiri aksi protes warga miskin di kota-kota kecil di Afrika Selatan.

Meski demikian, Zuma juga menegaskan, tidak ada pembenaran untuk kekerasan. Oleh karena itu, Jumat (24/7), dia menyatakan memberikan dukungan penuh kepada kepolisian dalam menghadap aksi-aksi protes yang pecah pada pekan lalu.

Seperti dilaporkan BBC, kemarin, Zuma juga meminta pengertian dari dewan-dewan dan serikat-serikat pekerja yang mengancam akan melakukan pemogokan untuk meminta kenaikan gaji.

”Para pengusaha dan pekerja harus berunding dengan niat baik dan harus siap saling memahami posisi masing-masing,” kata Presiden Afrika Selatan itu.

Resesi

Polisi menembakkan peluru-peluru karet dan gas air mata, Rabu (22/7), kepada para pemrotes yang menyerukan penggantian pejabat-pejabat lokal partai berkuasa ANC karena korupsi dan buruknya fasilitas publik di sejumlah kota-kota kecil Afrika Selatan.

Sekitar 200 orang ditangkap dalam beberapa aksi demonstrasi.

Krisis itu merupakan ujian awal bagi Zuma yang resmi menjadi presiden sejak Mei lalu, setelah dalam kampanyenya berjanji melakukan berbagai hal lebih untuk membantu warga miskin.

Afrika Selatan mengumumkan pada Juni lalu tengah menghadapi resesi terburuk dalam 17 tahun terakhir.

BBC melaporkan, saat ini adalah pertengahan musim dingin di Afrika Selatan, yang sangat dingin. Sementara banyak pekerja kehilangan pekerjaan sehingga dampak resesi terasa langsung karena rakyat tidak mampu membayar tagihan untuk gas dan bahan bakar.

Serikat pekerja sektor bahan bakar setuju atas tawaran kenaikan gaji sebesar 9,5 persen, Kamis lalu, tetapi memperingatkan kemungkinan masih akan melakukan pemogokan sebagai simpati terhadap para pekerja sektor kertas dan kimia yang masih belum mendapatkan tawaran kenaikan gaji dari para pengusaha.

Dewan-dewan pekerja lainnya juga mengancam akan tetap tinggal di rumah mulai hari Senin pekan depan. Hal tersebut bisa membuat ribuan pegawai pemerintah lokal terpaksa tinggal di rumah karena ketiadaan transportasi sehingga akan melumpuhkan sektor publik di Afrika Selatan.

Apabila aksi mereka berlanjut, hal tersebut akan melumpuhkan pertambangan-pertambangan terbesar dunia yang ada di negara itu.

Polisi mengatakan, ketenangan telah kembali di kota Siyathemba, di tenggara Johannesburg, setelah empat hari aksi pembangkangan.

”Konstitusi kita memberikan kepada rakyat hak atas kebebasan berkumpul dan berekspresi, dan untuk melakukan protes ketika mereka merasa perlu melakukannya, tetapi ini harus dilakukan dalam koridor hukum,” papar Presiden Zuma sambil menambahkan bahwa kekerasan, penjarahan, dan perusakan harta benda atau penyerangan terhadap warga asing tidak boleh lagi terjadi di Afrika Selatan.

(Reuters/OKI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau