Banteng Jawa di Leuweung Sancang Sudah Punah

Kompas.com - 25/07/2009, 16:20 WIB

GARUT, KOMPAS.com — Kepala Seksi Konservasi Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah V Garut Teguh Setiawan menyatakan, populasi banteng liar (bos Javanicus) di Leuweung (hutan) Sancang Cibalong kini dipastikan mengalami kepunahan.  

"Pada kawasan hutan seluas 2.157 hektar tersebut, semula sempat diketemukan 173 banteng liar berdasarkan hasil pendataan tahun 1984, kemudian pada 1992 hanya tinggal 64 ekor, terdiri 10 jantan, 45 betina, dan 9 ekor anak banteng," katanya di Garut, Sabtu (25/7).

Namun, dari kegiatan pendataan tahun 2007 hingga kini, tidak seekor pun populasi banteng liar yang berhasil diketemukan selain hanya bekas telapak kakinya. Diduga, banteng liar itu sudah mendekati punah.

Penyebabnya, hutan belantara yang sejak dulu merupakan habitat hewan langka itu mengalami kerusakan parah, baik akibat kebakaran, perambahan, pembalakan liar, maupun penyerobotan lahan untuk permukiman maupun kepentingan lain.

Pihak BKSDA Garut kini berencana mendatangkan 60 banteng liar dari Ujung Kulon, Banten, yang masih terjaga sampai sekarang. Untuk itu, sebelumnya akan dilakukan pengukuran tapal batas kawasan dan dilanjutkan dengan pemulihan kondisi hutan melalui reboisasi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau