Densus 88 Pulangkan Ahmadi

Kompas.com - 26/07/2009, 15:24 WIB

CILACAP, KOMPAS.com — Densus 88 memulangkan Ahmadi alias Ahmad Jenggot yang diduga sebagai kurir gembong teroris Noordin M Top ke kampung halamannya di Desa Sikanco, Kecamatan Nusawungu, Cilacap, Jawa Tengah.

"Ahmadi telah dipulangkan tadi pagi dan diserahkan langsung oleh Densus 88 kepada kami," kata Kepala Desa Sikanco Suparno, didampingi ipar Ahmadi (kakak istri Ahmadi, Roikoh), Mansur, di Sikanco, Minggu (26/7).

Menurut dia, rencananya Densus 88 akan mengantar Ahmadi hingga rumahnya di Dusun Sigaru RT 01 RW 07, Desa Sikanco.

Akan tetapi, demi ketenangan warga, dia bersama Kepala Dusun Sigaru Sutarman dan Kapolsek Nusawungu AKP Mochammad Ilham menjemput Ahmadi di Buntu, Kecamatan Kemranjen, Banyumas, sekitar pukul 04.00.

Kepulangan Ahmadi ke kampung halamannya karena yang bersangkutan terbukti tidak terkait dalam jaringan teroris.

"Dari awal Ahmadi memang mengaku tidak pernah terkait dalam jaringan teroris. Bahkan, dia mendatangi saya untuk minta keterangan mengapa ada petugas yang mencarinya pada 16 Juli saat ia berada di Lampung untuk berjualan alat rumah tangga," katanya.

Suparno minta Ahmadi memberi keterangan kepada Polda Jateng. Ahmadi pun menyatakan siap dan ikhlas untuk memberi keterangan sehingga pada 22 Juli Ahmadi diantar Kepala Dusun Sigaru Sutarman menuju Polda Jateng di Semarang. "Jadi, sama sekali tidak ada penangkapan terhadap Ahmadi," katanya.

Suparno menyayangkan adanya pemberitaan di berbagai media massa yang menyatakan, Ahmadi ditangkap karena terlibat dalam jaringan teroris, bahkan disebut-sebut sebagai calon pengantin dalam aksi pengeboman selanjutnya.

Ahmadi mengaku sama sekali tidak mengetahui masalah jaringan teroris meski mengenal Saefudin Zuhry (warga Desa Danasri Lor, Kecamatan Nusawungu, yang ditangkap Densus 88 pada 21 Juni).

Dia juga mengenal Bahrudin Latif alias Baridin (warga Desa Pasuruhan, Kecamatan Binangun, Cilacap, yang masih dikejar Densus 88 karena diduga terlibat dalam jaringan teroris dan diduga sebagai mertua Noordin M Top).

Menurut dia, perkenalan Ahmadi dengan Saefudin Zuhry hanya sebatas pertemanan biasa dalam pengajian, sedangkan dengan Bahrudin karena Ahmadi sering mengikuti pengajian di Pondok Pesantren Al-Muaddib milik Bahrudin di Desa Pasuruhan. "Pengajian yang diikuti Ahmadi hanya sebatas masalah Al Quran dan hadis," katanya.

Disinggung mengenai keberadaan Ahmadi, dia mengatakan, suami Roikoh ini belum bisa ditemui wartawan karena masih kecapaian sehingga butuh istirahat.

Meski demikian, kondisi Ahmadi dalam keadaan baik dan sehat. "Waktu itu saya berpesan, berangkat dalam keadaan sehat, pulang juga harus dalam kondisi sehat," katanya.

Sementara itu, ipar Ahmadi, Mansur, mengatakan, keluarga sangat prihatin terhadap pemberitaan tentang Ahmadi karena sangat jauh dari kenyataan.

"Ahmadi sama sekali tidak mengetahui masalah bom. Dia memang pernah satu sekolah dengan Saefudin Zuhry di sebuah pondok pesantren di Desa Kebarongan, Kemranjen, Banyumas," katanya.

Selain itu, Ahmadi sering membeli madu di tempat Saefudin Zuhry, sedangkan pengajian yang diikuti di pesantren milik Bahrudin hanya sebatas pengajian biasa. "Kesehariaannya kalau di sini, Ahmadi memang saya suruh bekerja di kandang ayam milik saya," katanya.

Menurut dia, saat ini Ahmadi belum bisa ditemui karena masih butuh istirahat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau