BANDUNG, KOMPAS.com - Petani karet di Jawa Barat mulai memperbanyak penggunaan pupuk organik cair mengantisipasi ancaman musim kemarau panjang sebagai dampak iklim El Nino yang diperkirakan terjadi hingga awal 2010. Jika musim kering panjang terjadi, produksi komoditas karet diperkirakan turun hingga 50 persen dengan potensi kerugian mencapai miliaran rupiah.
Ketua Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) Jabar, Asep Hermawan, Minggu (26/7), di Bandung mengatakan, harga pupuk organik cair sebenarnya relatif mahal, yakni Rp 60.000 per setengah liter. Namun, unsur-unsur kimia pupuk organik cair mampu mempertahankan kandungan air di dalam pohon karet.
"Sejauh ini, hanya langkah itu yang bisa dilakukan petani. Kendati butuh biaya lebih banyak, diharapkan, penggunaan pupuk organik cair bisa sedikit menekan kerugian petani akibat musim kering panjang," kata Asep.
Saat ini, harga karet rakyat di pasaran berkisar Rp 13.000-Rp 22.000 per kilogram tergantung kualitas. Dengan produksi sekitar 3.500 ton per tahun, volume perdagangan karet rakyat di Jabar setahun mencapai Rp 61,25 miliar.
Asep mengatakan, volume getah karet basah yang dihasilkan dari perkebunan rakyat berkisar 350-500 gram per pohon. Namun, jika ancaman kekeringan panjang terjadi, kapasitas produksi getah bisa menyusut hingga 150 gram per pohon.
"Jika produksi menyusut, kerugian petani sangat besar. Saat ini, petani tidak memiliki banyak pilihan solusi karena keterbatasan dana," ujarnya.
Menurut Asep, solusi yang lebih optimal sebenarnya dengan menambah pasokan air ke pohon karet. Pasokan air dimasukkan ke dalam tanah di bawah pohon karet melalui selang. Namun, teknologi tersebut membutuhkan investasi yang tidak sedikit dan belum memungkinkan bagi petani.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang