Wapres: Ekonomi Syariah Mampu Atasi Krisis Global

Kompas.com - 27/07/2009, 12:54 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai jika ekonomi syariah diterapkan, negara Islam akan mampu bertahan saat krisis global. Pasalnya, dalam ekonomi syariah, semua transaksi berlangsung secara riil dan tidak bergantung pada pasar finansial.

Hal tersebut dikatakan Kalla dalam sambutannya saat membuka Pre Wipl's Assembly Seminar yang bertajuk, "The Islamic and the Future of World Civilizations" yang berlangsung di Sahid Jaya Hotel, Jakarta (27/7). "Dunia Islam seharusnya tidak menderita karena krisis global karena ekonomi syariah diimplementasikan ke pasar riil," ujar Kalla.

Dalam ekonomi syariah, kata Kalla, terdapat aturan zakat 2,5 persen yang bahkan juga diterapkan dalam industri eksplorasi dan pertambangan. Selain itu, ekonomi syariah juga lebih banyak menjelaskan tentang transaksi yang dilakukan secara riil. "Hal itu akan memperkecil jurang kesejahteraan yang banyak terjadi," ujarnya.

Lebih jauh ia menuturkan, jika negara-negara Islam menginginkan agar ekonomi syariah dipakai secara global, mereka harus menerapkan hal tersebut terlebih dahulu. "Bagaimana mau mengajarkan dunia, kalau kita (negara Islam) tidak menerapkan itu," kata dia.

Oleh karena itu, kata Kalla, semua negara Muslim harus menerapkan ekonomi syariah. "Ini kesempatan kita untuk mengubah dunia karena ini (ekonomi syariah) dari Allah. Kita bisa membuat dunia lebih baik," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau