JAKARTA, KOMPAS.com — Munculnya gambar-gambar yang berbau kekerasan di media televisi pascaledakan bom di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton menuai keluhan dari masyarakat, terutama tokoh-tokoh nasional. Gambar seperti potongan kepala dan pemutaran rekaman CCTV dinilai telah memberikan efek negatif.
Demikian disampaikan Kabid Penum Kombes Pol Ketut Yoga Ana pada diskusi evaluasi peliputan media terhadap Bom Kuningan, Rabu (29/7) di Kantor Persatuan Wartawan Indonesia, Jakarta.
"Maka itu, saya meminta teman-teman redaksi, dengan segala rambu-rambu dan kode etik, menyaring (materi pemberitaan)," ujar Ketut.
Ketut mengatakan, aksi peledakan bom merupakan kejahatan luar biasa atau extraordinary crime. Dengan demikian, pemberitaan kasus bom tidak dapat disamakan dengan kejahatan lainnya.
Menurutnya, jangan karena persaingan antarmedia, kelompok terorisme dapat tersenyum karena berhasil memanfaatkan media guna menebarkan ketakutan ke tengah-tengah masyarakat.
Terkait munculnya gambar potongan kepala, Direktur TVOne Karni Ilyas mengakui kesalahan tersebut. Namun, kata Karni, potongan kepala tersebut hanya muncul satu kali di televisi swasta tersebut. "Saya sempat teriak beberapa second ketika potongan kepala itu muncul. Setelah itu, tidak lagi," ujarnya.
Karni mengakui, irama stasiun televisi berita sangat dinamis sehingga dirinya tidak dapat memantau semua berita-berita yang ditayangkan selama 24 jam. Padahal, tidak semua produser memiliki pengetahuan yang memadai terhadap kode etik.
Kendati pihaknya telah menerbitkan buku panduan pemberitaan, tidak semua pekerja televisi tertarik membacanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang