Pengin Tahu Pengalaman Anindya Bakrie Terserang Flu A-H1N1?

Kompas.com - 30/07/2009, 09:48 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden Direktur PT Bakrie Telecom Anindya Bakrie dilaporkan terserang flu A-H1N1 (swine flu). Tak tanggung-tanggung, lima anggota keluarganya semua terserang flu A-H1N1. Selain dia sendiri, juga istri dan 3 anaknya.

Mereka terserang saat menetap di Boston, AS. Putra bungsu Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie itu memang sedang menempuh studi di Harvard University, AS.

Saat ini, semuanya dilaporkan telah sembuh. Berikut ini pengalaman Anindya Bakrie yang diceritakannya dalam wawancara melalui e-mail.

Bagaimana awal mula Anda sekeluarga terkena flu A-H1N1 ini?
Sebenarnya kami terkena flu dan sembuh sudah sekitar 2-3 minggu yang lalu, di awal Executive Program saya di Harvard University. Sebenarnya yang tertular duluan adalah istri saya. Kelihatannya mungkin tertular orang lain di dalam pesawat dari New York ke Boston. Karena kami semua tinggal di dalam satu apartemen, penularan gampang terjadi seperti adakalanya flu yang lain.

Bagaimana gejalanya?
Sebenarnya gejalanya mirip sekali dengan flu lainnya karena sama-sama penularannya melalui virus. Jadi diawali dengan demam yang tidak lain adalah reaksi tubuh kita melawan virus dan sering juga dibarengi batuk dan pilek.

Butuh berapa lama untuk sembuh?
Tergantung kondisi fisik tiap orang, baik kejangkitannya, maupun pemulihannya dapat berbeda, makin sehat, tentu makin sedikit gejalanya dan makin cepat pulihnya. Sebagai contoh, saya yang sering berolahraga dan memakai multivitamin dapat pulih dalam 2 harian (ini sama dengan anak-anak). Istri saya pulih sekitar 4-5 harian.

Bagaimana cara pengobatan yang Anda alami?
Seperti flu lainnya, hal yang paling penting adalah menjaga agar panas badan tidak melebihi batas normal 40 derajat celsius atau 100 derajat Fahrenheit. Penurunan panas dapat juga dibantu dengan obat-obat penurun panas, seperti Panadol, Tylenol, maupun Tempra untuk anak-anak.

Seperti apa penanganan flu A-H1N1 di AS?
Secara umum paling tidak di AS, penanggulangannya dapat juga secara natural dengan banyak istirahat dan minum air putih serta dengan menggunakan obat panas generik. Untuk pengobatan khusus baru digunakan obat seperti Tamiflu yang fungsi utamanya adalah mempercepat pemulihan gejala flu tersebut maupun vaksin. Dalam kasus keluarga saya, justru kebanyakan menggunakan obat generik dalam pemulihan walau ada juga yang menggunakan Tamiflu maupun vaksin.

Apabila selama 2-3 hari panas tidak menurun, saya anjurkan untuk menemui dokter dan melakukan pemeriksaan darah, air liur, bahkan rontgen. Dalam kasus yang lebih serius, pasien dapat juga merasakan sesak pernapasan. Ini yang benar-benar harus mendapatkan perhatian khusus.

Flu ini harus diwaspadai, terutama untuk anak di bawah 5 tahun dan dewasa di atas 65 tahun. Salah satu pencegahannya paling tidak meminimalkan efek, jika terjangkit, adalah menjaga kondisi tubuh dengan vitamin, maupun suntikan anti-flu secari periodik."

Bagiamana kuliah Anda?
Alhamdulilah dalam mengikuti Executive Program hampir 1 bulan, saya hanya tidak masuk 1 hari karena membawa keluarga ke dokter. Saya baru selesai mengambil program di Harvard Kennedy School of Public Policy dan Harvard Business School. Di Kennedy School, judul programnya "Building Infrastructure in Market Economies" dan di Business School, saya mengambil program "Making Corporate Boards Effective". Saya rasa kedua program sangat relevan dan berguna untuk saya. Sekalian juga bagus untuk "charging" otak karena sudah 10 tahun sejak saja mengambil gelar MBA di Stanford."

Kabarnya Anda ikut short course di Harvard bareng Agus Yudhoyono. Dia tidak kena swine flu juga?
Agus dalam keadaan baik-baik saja. Mungkin itu bedanya fisik tentara dan sipil. Ha-ha."

Ayah Anda mendapatkan tugas menjadi Ketua Timnas Penanggulangan Flu A-H1N1, eh malah anak, menantu, dan cucu-cucunya sendiri yang terkena. Tanggapan Anda?
Ha-ha-ha. Ini artinya kita semua masih tergolong manusia. Jadi, tetap harus selalu jaga kondisi kesehatan, banyak istirahat, olahraga dan makan sehat, waspada tetapi janganlah panik. Buat Pak Ical harusnya semakin efektif dalam memimpin penanggulangan flu karena telah mempunyai pengalaman pribadi dalam kasus flu ini walau kasus keluarga saya terjadi di luar negeri.

Dari pengalaman Anda, menurut Anda, apa yang perlu dilakukan timnas yang dipimpin Pak Ical?
Saya rasa penting diteruskan sosialisasi mengenai flu ini agar masyarakat, terutama orangtua, terinformasi dengan baik sehingga dapat menyikapi gejala ini secara tepat dan proporsional. Juga baik untuk pemerintah untuk berkoordinasi dengan para dokter supaya dapat memberikan tindakan yang gesit, baik pada kasus yang ringan, maupun berat. Bagaimanapun juga, ini fenomena dunia, yang di negara maju pun terjadi dan menggunakan pemulihan alami atau dengan obat-obat generik. Yang penting, masyarakat waspada, tapi tidak panik.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau