TEHERAN, KOMPAS.com — Televisi pemerintah Iran, Press TV, melaporkan polisi Iran menggunakan gas air mata untuk membubarkan demo mengenang kematian seorang demonstran wanita pascapemilu 12 Juni yang dipersengketakan.
Sekitar 1.000 orang berkumpul di pemakaman Behesht-e Zahra, Teheran, Kamis (30/7), mengenang kematian Neda Agha Soltan (27) yang tewas ditembak aparat keamanan saat menyaksikan demo.
Sebelumnya, polisi melarang pemimpin oposisi Mir Hossein Mousavi bergabung dalam peringatan itu. Namun, para pendukungnya memaksa melakukan aksi dengan meneriakkan "Matilah diktator".
Pemerintah sebelumnya menolak permohonan izin penyelenggaraan upacara tradisional yang biasa dilakukan 40 hari setelah kematian Neda. Gambar-gambar Neda ditampilkan pada sebuah website video sehingga menjadi simbol gerakan kelompok oposisi. Masyarakat muslim Syiah lazim menandai 40 hari setelah kematian dengan sebuah upacara yang disebut Arbain.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang