Aduh, Berlaga di Rumput Kering, Toilet Pun Tak Berfungsi

Kompas.com - 31/07/2009, 20:22 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Pembukaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) X 2009 di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, Sabtu petang besok, tentu akan dihadiri sejumlah pejabat dan orang penting. Ada pertanyaan menggelitik: Jika tiba-tiba ingin buang air kecil, akan menuju ke mana mereka?

Penonton yang nanti duduk di sisi tribun tertutup stadion bakal geleng-geleng kepala jika membuka pintu toilet terdekat, yang terletak persis di belakang deretan kursi tribun. Salah satu pintu toilet dalam keadaan terkunci rapat.

Toilet itu sudah lama tak berfungsi. Satunya lagi, yang hanya tempat buang air kecil untuk pria, dalam kondisi tak layak. Warna ubin sudah menghitam, gelas air mineral kemasan dan sampah plastik bertebaran, lampunya mati, dan baunya agak pesing.

Tak ada aliran air sama sekali. Untuk menuju toilet terdekat yang berfungsi harus turun ke bawah. Yang bisa dibilang paling layak barangkali hanya dua toilet di ruangan gudang. Dua toilet ini pada Jumat siang kemarin sedang dibersihkan.

Bau karbol menyeruak cukup tajam dari sana, pertanda bau di dalam toilet mesti ekstra keras dihilangkan. "Mesti dibersihkan dengan tenaga ekstra nih. Besok (hari ini) hendak ada pembukaan Porpov," begitu kata Ludo, petugas kebersihan di stadion.

Yah beginilah nasib toilet di sana. Sambil berseloroh, Ludo bilang bahwa yang benar-benar dianggap toilet oleh penonton adalah tembok dan lantai di belakang tribun. Sehabis pertandingan, pasti ada bukti otentik bahwa tempat itu dikencingi.

Selain Mandala Krida, laga sepakbola pada Porprov adalah Kridosono. Kondisi toilet Kridosono lebih parah. Di belakang tribun berlantai semen, hanya ada satu toilet yang terbagi dua ruangan. Air memang mengucur, tetapi tak ada pintu toiletnya. Di dinding dekat toilet tertulis Dilarang Kencing. Wah!

Rumput di Mandala Krida menguning dan mengering, pertanda tak rutin disiram. Pemain yang jatuh bangun di lapangan pasti pedes kulitnya. Namun, itu belum seberapa dibanding di Kridosono yang rumputnya jauh lebih kering. Lapangan Kridosono tampak botak di tiga sisi, yakni tengah lapangan, dan dua di area depan gawang.  

Kondisi Mandala Krida saat ini masih lebih baik ketimbang dulu saat pengelolaannya dipegang Yayasan Mandala Krida. Sejak Juli 2008, pengelolaan diambil Balai Pemuda dan Olah Raga (BPO), unit pelaksana teknis daerah milik Pemerintah Provinsi DIY. Secara penuh, BPO memegang pengelolaan sejak Maret 2009.

Dulu, urusan keran air, gayung, hingga lampu hilang, sudah hal biasa. Hari ini memasang, besok hilang. Pompa air di dalam sumur juga bisa hilang. Bahkan sampai kabel menara lampu stadion, berikut lampunya sering hilang. Sejak dipegang BPO, kasus-kasus itu perlahan berkurang, ujar Wiwik Liswati, staf Seksi Olahraga BPO.

Jika Mandala Krida dipegang Pemprov, pengelolaan Kridosono masih oleh swasta, yakni PT Anindya. Penjarahan, seperti disampaikan Manager Property & Realty PT Anindya Bambang Kariyanto, masih terjadi. Bahkan, ulah tangan jahil terbilang nekat.

"Bayangkan, jika pintu stadion digembok, mereka mengisi lubang gembok dengan kawat sehingga gembok tak bisa dibuka dengan kunci. Gembok yang seharga Rp 100.000-an mesti digergaji. Yah, mau tidak mau, sekarang pintu tak digembok," ujarnya seraya menyebut bahwa keterbatasan dana menyebabkan perawatan kurang maksimal.

Akibatnya, seperti di Kridosono, orang-orang bebas keluar-masuk, tidur, bahkan menjemur celana di bangku stadion. Kridosono juga tak bakal terjaga rumputnya jika masih dipakai untuk konser musik. Dua lapangan itulah yang akan dipakai untuk Porprov.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau