Pembibitan Sapi Wagyu di 3 Lokasi

Kompas.com - 01/08/2009, 12:39 WIB

Temanggung, Kompas - Pusat pembibitan sapi wagyu di Kabupaten Temanggung akan disebar di tiga lokasi. Ketiga tempat tersebut adalah Medari di Kecamatan Ngadirejo, dan daerah Maron serta Walitelon di Kecamatan Temanggung.

Bupati Temanggung Hasyim Affandi mengatakan, ketiga lokasi ini sudah dipilih dan disetujui oleh pihak rekanan yang merupakan investor dari Australia.

"Lokasi di Walitelon nanti dapat dijadikan sebagai kandang dan pabrik pakan mini. Lokasi di Maron dapat dimanfaatkan sebagai laboratorium dan etalase sapi, areal sisanya dapat dimanfaatkan sebagai lahan yang menghasilkan hijauan untuk pakan ternak," ujar Hasyim, Jumat (31/7).

Lahan yang tersedia di Medari berluas enam hektar, di Walitelon lima hektar, dan di Maron 1,5 hektar. Tiga lokasi tersebut diperkirakan cukup menampung sedikitnya 2.000 ekor bibit sapi wagyu yang akan dikirim dari Australia.

Sebelumnya, pusat pembibitan sapi tersebut direncanakan berlokasi di lahan bekas galian C di Kecamatan Kledung. Namun, karena pemulihan kawasan berjalan terlalu lama, investor Australia meminta alternatif lokasi lain.

Kesepakatan kerja sama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Temanggung dan investor dari Australia sudah dituangkan dalam bentuk letter of intent (LOI). Kesepakatan ini nanti akan segera ditindaklanjuti dengan penandatanganan nota kesepahaman.

"Pembangunan pusat pembibitan sapi wagyu tersebut dijanjikan oleh pihak Australia akan dimulai pada Oktober mendatang," ujarnya. Kerja sama ini, menurut Hasyim, dipastikan tetap akan berjalan dan tidak terganggu dengan isu terorisme di Indonesia.

Daging sapi wagyu adalah daging sapi yang bercitarasa lebih empuk dan lezat karena memiliki serat lemak tersebar merata di seluruh permukaan dagingnya. Daging sapi jenis ini banyak dipakai untuk bahan baku steak di restoran-restoran mahal. Daging ini pun potensial diekspor ke Eropa.

Sebelumnya, Gubernur Jateng Bibit Waluyo saat Pertemuan Masyarakat Peternak di Kantor Badan Koordinasi Wilayah II di Kota Solo, 28 Juli lalu, mengemukakan, peternakan menjadi penentu sektor ekonomi Jateng.

Dia menunjuk pada pertumbuhan ekonomi triwulan pertama tahun 2009 sebesar 5,5 persen dengan 5,3 persen disumbangkan dari sektor pertanian dalam arti luas, termasuk peternakan. "Peternakan dan pertanian seperti keping mata uang, tidak bisa dipisahkan. Pertanian akan subur jika peternakan maju karena dari peternakan dihasilkan 'emas hijau' berupa kotoran yang dapat menyuburkan lahan pertanian. Untuk itu, saya ingin percepatan pertumbuhan sapi sebesar-besarnya di Jateng," kata Bibit. (EGI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau