Oleh Yulvianus Harjono
Penyakit malaria begitu akrab dengan manusia dan peradaban. Sejak zaman Yunani Kuno hingga kini, malaria terus menjadi persoalan besar masyarakat dunia. Tak salah jika Perserikatan Bangsa-Bangsa memasukkan penanggulangan malaria sebagai salah satu butir sasaran pembangunan milenium 2015.
Di Indonesia, dari data tahun 2008, muncul 1,62 juta kasus malaria, 266.000 di antaranya positif malaria. Sebanyak 396 kabupaten atau 80 persen jumlah kabupaten/kota termasuk endemis malaria. Mortalitas di Indonesia terhitung tinggi, 700 orang per tahun.
Mengingat wilayah Indonesia demikian luas dan sebagian besar merupakan daerah terpencil, masih ada kendala besar untuk penanggulangan dan penanganan dini malaria. Di banyak daerah, pengobatan secara klinis (tanpa periksa di laboratorium) masih menjadi andalan.
Padahal, metode lawas penanganan malaria ini dinilai kurang efektif. Kini malaria takmudah diketahui gejalanya. Beberapa kasus, gejala malaria disertai sesak napas, sakit kepala, gangguan kejiwaan akut, bahkan yang terburuk menyamar layaknya demam biasa.
Untuk itu, cek sampel darah merupakan pilihan diagnosis paling tepat. Yang jadi kendala kemudian, apakah di setiap desa atau kecamatan memiliki fasilitas yang dilengkapi mikroskop dan laboratorium? Jika ya, apakah ada tenaga ahli yang cukup untuk memprosesnya secara akurat dan cepat?
Gugatan-gugatan inilah yang melahirkan Malaria Observation System and Endemic Surveillance (MOSES). Ini sebuah konsep telemedis integral penanggulangan malaria yang diciptakan empat mahasiswa Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung, David Samuel, Dody Dharma, Dominikus Damas Putranto, dan Samuel Simon.
Telemedis malaria yang diciptakan Tim Big Bang ITB ini memenangi penghargaan Windows Mobile Awards dalam ajang kompetisi mahasiswa bergengsi Imagine Cup 2009 di Kairo, Mesir, 3-7 Juli. Kompetisi ini diikuti mahasiswa dari 67 negara.
Inti inovasi MOSES adalah penciptaan alat dan sistem berjaringan yang bisa melakukan sekaligus fungsi-fungsi anamnesis, diagnosis, uji laboratorium darah, penanganan, surveilans, dan pengumpulan data dalam satu basis data melalui mekanisme jarak jauh (remote).
Salah satu bagian terpenting dari sistem telemedis ini adalah alat PDAscope, sebuah PDA atau telepon genggam yang dilengkapi mikroskop portabel dan peranti anamnesis otomatis.
Disebut otomatis karena input data anamnesis dilakukan dengan perintah suara tak perlu diketik. Sistem kecerdasan buatan bernama Marcelina yang diprogamkan dalam HP/PDA akan memandu bidan melakukan diagnosis dan kompilasi data pasien secara otomatis.
Untuk melengkapi diagnosis, diambil sampel darah pasien dan diperiksa di mikroskop portabel. Alat berkemampuan perbesar 1.000 kali ini dimodifikasi agar ringan dan mudah dibawa. ”Untuk menggunakannya HP saja cukup. Asal dilengkapi kamera minimal 2 megapiksel,” ujar Dody Dharma (20).
Harga mikroskop ini jika diproduksi massal relatif murah, yaitu 100 dollar AS atau sekitar Rp 1 juta. Harga mikroskop standar berkemampuan setara, 290 dollar AS atau sekitar Rp 2,9 juta.
Cara kerjanya, data-data anamnesis dan foto berisikan citra sel darah merah pasien dari PDA/HP ini dikirim ke pusat server MOSES melalui fitur multimedia message service. Di pusat server, fitur Doctor Panel akan membaca citra darah. Sistem dapat mengenali sampel-sampel sel darah yang terkontaminasi plasmodium melalui alat image processing. Alat ini menggunakan Algoritma Artificial Neural Network dipadukan peranti lunak open source Aforg hasil pengembangan SoftPrime Development.
Secara otomatis, sistem menganalisis persentase probabilitas Plasmodium Vivax, Malariae, dan Falciparum di sampel darah. ”Di Indonesia, ketiga parasit ini adalah yang dominan,” ucap Dominikus Damas. Agar hasil lebih akurat, sistem ini tetap butuh tenaga dokter ahli.
Proses telemedis melalui MOSES ini, di dalam percobaan (dummy), pasien dapat tertangani secara baik dan diagnosisnya akurat hanya dalam hitungan jam, bahkan menit. Padahal, pasien bernama Naomi berada di tempat terpencil, di mana jarak puskesmas terdekat 100 mil. Jika ditangani biasa, butuh waktu empat hari hingga ia bisa tertolong.
”Malaria adalah penyakit yang butuh penanganan cepat, khususnya pada anak-anak dan ibu hamil. Jika dalam waktu dua hari tidak tertangani, pasien bisa meninggal,” ucap Munawar Ahmad, dosen ITB, mentor tim tersebut.
Melalui sistem data terpusat, MOSES bisa difungsikan sebagai alat surveilans epidemiologi terpadu. Melalui MOSES, dapat diperoleh data statistik berisi jumlah kasus, pasien, dan peta penyebaran malaria. Dengan data ini, dapat dikembangkan studi pola penyebaran malaria dan penanganan yang efektif.
Munawar mengatakan, alat telemedis yang sempat menyita perhatian Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari ini dapat dikembangkan untuk diterapkan di bidang kesehatan lainnya, misalnya demam berdarah, uji sampel DNA, atau bahkan flu A-H1N1. Bila teknologi ini diaplikasikan, pemerintah bisa menghemat dana hingga 66 persen. Hasil karya anak bangsa yang dikembangkan sejak awal tahun 2009 ini dikabarkan akan dikembangkan lebih lanjut di Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri ITB untuk diproses inkubasi agar bisa diaplikasikan segera.