Sudah 160 Tewas Akibat Bentrokan Etnik di Sudan

Kompas.com - 04/08/2009, 00:54 WIB

JUBA, KOMPAS.com - Bentrokan sengit antara kelompok-kelompok etnik yang bersaing di Sudan selatan menewaskan lebih dari 160 orang, kebanyakan dari mereka perempuan dan anak-anak, seorang pejabat regional mengatakan, Senin (3/8).
   
Bentrokan antara kelompok etnik Murele dan saingan mereka Lo Nuer terjadi Minggu (2/8) di daerah Akobo di negara bagian Jonglei, komisaris regional Goi Jooyul mengatakan pada AFP.
   
Ia mengatakan 100 perempuan dan anak-anak, 50 pria dan 11 tentara termasuk di antara yang tewas. "Kami memiliki 161 orang yang telah dikonfirmasikan tewas, dan orang-orang mencari di semak-semak lebih banyak korban," kata Yol.
   
"Kami khawatir mungkin akan ada lebih banyak orang yang tewas ditemukan," ia menambahkan. "Situasi di kota Akobo tegang, dan orang-orang yang melarikan diri dari pertempuran akan terus tiba ke kota itu," ia menambahkan, berbicara melalui telpon dari Bor, ibu kota Jonglei.
   
Yol mengatakan pertempuran telah berakhir tapi ada kekhawatiran bahwa kekerasan mungkin akan mulai lagi. "Oang-orang lapar dan situasinya serius," kata Yol. "Bagaimanapun kami masih mengharapkan bahwa ini tidak akan meluas dan bahwa pembicaraan antara semua kelompok akan menjadi mungkin."
   
Pertempuran itu tiba hampir tiga bulan setelah 250 orang tewas ketika para petempur Murele menyerang warga desa Lou Nuer di wilayah yang sama. Sebanyak 750 orang tewas dalam bentrokan satu bulan sebelumnya di daerah Pibor, lebih ke selatan.
   
Secara keseluruhan, lebih dari 1.000 orang telah tewas dan beberapa ribu lagi orang terlantar akibat pertempuran di Sudan selatan dalam beberapa bulan belakangan ini. Sementara, beberapa pejabat PBB memperingatkan bahwa angka kematian belakangan ini telah melewati angka kematian di wilayah Darfur di Sudan barat yang dirusak-perang.
   
Negara bagian Jonglei adalah salah satu daerah yang terpukul paling keras dalam perang saudara utara-selatan dua dasawarsa lamanya di Sudan, yang berakhir pada 2005 dengan perjanjian pembagian kekuasaan antara utara yang Muslim dan selatan yang Kristen dan animis. Negara bagian itu masih diliputi dengan senjata kecil dan  bentrokan sering terjadi di antara kelompok-kelompok etnik yang bersaing.
   
Kampanye perlucutan senjata yang dilakukan dengan canggung kecuali tidak efektif telah menyebabkan wilayah itu berisiko mendapat serangan dari tetangga-tetangga mereka yang masih bersenjata.
   
Menurut perjanjian yang mengakhiri perang saudara terlama di Afrika itu, selatan memiliki periode otonomi regional sementara enam tahun dan mengambil bagian dalam pemerintah persatuan hingga referendum mengenai penentuan nasib sendiri 2011. Pemerintah telah berjuang untuk memelihara ketertiban di negara bagian yang seukuran Austria dan Swiss digabungkan itu.
   
Empat puluh tentara tewas Juni ketika satu kelompok etnik menyerang tongkang yang membawa bantuan pangan di sungai Sobat. Serangan itu menyusul bentrokan Mei antara kelompok etnik Lou Nuer dan Jikany. Dalam insiden itu, sedikitnya 66 orang tewas, menurut para pejabat setempat.
   
Pertempuran itu meningkatkan kekhawatiran akan ketidakstabilan potensional pada masa depan dengan pemilihan nasional akan diadakan pada 2010.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau