JAKARTA, KOMPAS.com — Tujuh hari terakhir, rupiah sanggup bertahan di level Rp 9.000-an per dollar AS. Alih-alih berbalik melemah seperti biasanya, rupiah masih menunjukkan tren terus menguat.
Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI), Senin (3/8) kemarin, rupiah kembali naik 0,3 persen atau Rp 30 dibandingkan akhir pekan lalu menjadi Rp 9.890 per dollar AS. "Bila dihitung dari Juni, penguatan rupiah mencapai 2,18 persen," kata Darmin Nasution, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), kemarin.
Di masa datang, kondisi ekonomi global dan domestik bisa memengaruhi arah rupiah. Di dalam negeri, inflasi bulanan pada Juli 2009 mencapai 0,45 persen, sedikit lebih tinggi daripada harapan pasar yang 0,36 persen. "Harga pasti naik karena ada tahun ajaran baru anak sekolah," ujar Rosadi TA Monthol, Kepala Tresuri Bank BNI, kemarin. Padahal, bunga acuan atau BI Rate tahun ini masih mungkin turun 0,25 persen-0,75 persen jadi 6,5 persen-6 persen. Jadi, imbal hasil instrumen investasi dalam rupiah semakin ciut.
Toh, Kepala Ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa menilai inflasi Juli itu masih wajar. Kondisi itu tidak akan memicu pelemahan rupiah hingga kembali ke atas Rp 10.000 per dollar AS.
Kedua pengamat tadi meyakini, rupiah kini justru dalam tren menguat. Ekonomi AS yang membaik dan kenaikan harga minyak juga tidak akan memicu pembalikan dana asing dari pasar modal.
Sebaliknya, investor global akan semakin berani memburu instrumen investasi berisiko di pasar berkembang seperti Indonesia. Alhasil, rupiah akan terus menguat. "Saya tidak melihat ada ancaman bagi rupiah dalam seminggu ke depan," ujar Purbaya.
Pekan ini, Rosadi memprediksi rupiah bisa mencapai Rp 9.800 per dollar AS. Purbaya bahkan memperkirakan rupiah bisa mencapai Rp 9.500 per dollar AS pekan ini. Namun, mungkin BI akan mengerem penguatan rupiah. "Level Rp 9.500 baru akan terjadi sebulan lagi," imbuhnya. Hingga akhir 2009, Purbaya meramal, rupiah berada di kisaran Rp 9.000-Rp 9.500 per dollar AS.
Persoalannya, kata Darmin, aliran modal asing di sektor riil alias foreign direct investment (FDI) masih rendah. Artinya, penopang penguatan rupiah adalah dana asing berjangka pendek (hot money). Jika aliran FDI tak kunjung membaik dan uang panas itu keluar, rupiah terancam berbalik melemah lagi. (Ade Jun Firdaus, Herlina KD, Ruisa Khoiriyah/Kontan)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang