Rupiah Akan Perkasa hingga Akhir Tahun

Kompas.com - 04/08/2009, 10:43 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Tujuh hari terakhir, rupiah sanggup bertahan di level Rp 9.000-an per dollar AS. Alih-alih berbalik melemah seperti biasanya, rupiah masih menunjukkan tren terus menguat.

Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI), Senin (3/8) kemarin, rupiah kembali naik 0,3 persen atau Rp 30 dibandingkan akhir pekan lalu menjadi Rp 9.890 per dollar AS. "Bila dihitung dari Juni, penguatan rupiah mencapai 2,18 persen," kata Darmin Nasution, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), kemarin.

Di masa datang, kondisi ekonomi global dan domestik bisa memengaruhi arah rupiah. Di dalam negeri, inflasi bulanan pada Juli 2009 mencapai 0,45 persen, sedikit lebih tinggi daripada harapan pasar yang 0,36 persen. "Harga pasti naik karena ada tahun ajaran baru anak sekolah," ujar Rosadi TA Monthol, Kepala Tresuri Bank BNI, kemarin. Padahal, bunga acuan atau BI Rate tahun ini masih mungkin turun 0,25 persen-0,75 persen jadi 6,5 persen-6 persen. Jadi, imbal hasil instrumen investasi dalam rupiah semakin ciut.

Toh, Kepala Ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa menilai inflasi Juli itu masih wajar. Kondisi itu tidak akan memicu pelemahan rupiah hingga kembali ke atas Rp 10.000 per dollar AS.

Kedua pengamat tadi meyakini, rupiah kini justru dalam tren menguat. Ekonomi AS yang membaik dan kenaikan harga minyak juga tidak akan memicu pembalikan dana asing dari pasar modal.

Sebaliknya, investor global akan semakin berani memburu instrumen investasi berisiko di pasar berkembang seperti Indonesia. Alhasil, rupiah akan terus menguat. "Saya tidak melihat ada ancaman bagi rupiah dalam seminggu ke depan," ujar Purbaya.

Pekan ini, Rosadi memprediksi rupiah bisa mencapai Rp 9.800 per dollar AS. Purbaya bahkan memperkirakan rupiah bisa mencapai Rp 9.500 per dollar AS pekan ini. Namun, mungkin BI akan mengerem penguatan rupiah. "Level Rp 9.500 baru akan terjadi sebulan lagi," imbuhnya. Hingga akhir 2009, Purbaya meramal, rupiah berada di kisaran Rp 9.000-Rp 9.500 per dollar AS.

Persoalannya, kata Darmin, aliran modal asing di sektor riil alias foreign direct investment (FDI) masih rendah. Artinya, penopang penguatan rupiah adalah dana asing berjangka pendek (hot money). Jika aliran FDI tak kunjung membaik dan uang panas itu keluar, rupiah terancam berbalik melemah lagi. (Ade Jun Firdaus, Herlina KD, Ruisa Khoiriyah/Kontan)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau