MOSKWA, KOMPAS.com — Beberapa hari menjelang peringatan peristiwa perang Rusia-Georgia tahun lalu, Presiden Rusia Dmitry Medvedev berbincang dengan Presiden AS Barack Obama mengenai integritas Georgia, Selasa (4/8). Kedua pemimpin negara, dalam perbincangan telepon atas inisiatif Moskwa, juga membahas masalah pengawasan persenjataan, Timur Tengah serta Iran.
Ketegangan meningkat menjelang peringatan peristiwa perang Rusia-Georgia. Georgia dan Rusia saling menuduh memancing aksi provokasi di bagian wilayah Georgia yang dikuasai oleh separatis, South Ossetia yang mendapatkan dukungan dari Moskwa.
Pasukan Rusia belakangan telah disiagakan di wilayah perbatasan de facto South Ossetia dengan Georgia. Perang singkat pada 7-8 Agustus 2008 berkobar di wilayah tersebut.
Ribuan personel pasukan Rusia memasuki wilayah South Ossetia untuk meningkatkan kondisi keamanan setelah pasukan Rusia menaklukkan militer Georgia dalam konflik militer selama 5 hari tahun lalu. Selama ini hanya Rusia dan Nikaragua yang mengakui kemerdekaan South Ossetia. Lewat kunjungannya ke Rusia belakangan, Barack Obama telah menekankan agar integritas teritorial Georgia harus dihormati.
Dalam percakapan teleponnya, Obama dan Medvedev juga menyepakati kebutuhan untuk meningkatkan usaha mencapai kesepakatan baru soal pengawasan senjata nuklir sebelum akhir tahun ini. Beberapa pejabat AS dan Rusia mencoba mencapai kesepakatan pengganti perjanjian pengendalian persenjataan pada 1991 yang dikenal dengan START.
Salah satu penghambat hubungan Washington dengan Moskwa adalah isu seputar rencana AS membentuk sistem pertahanan rudal di Eropa Tengah. Rusia telah dengan tegas menentang rencana tersebut.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang