Semua Penumpang dan Awak Merpati Tewas

Kompas.com - 05/08/2009, 14:56 WIB

SENTANI, KOMPAS.com — Semua penumpang dan awak pesawat jenis Twin Otter milik Merpati yang jatuh di wilayah Abmisibil, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua pada Minggu (2/8) dipastikan tewas. Hal itu disampaikan Direktur Utama (Dirut) PT Merpati Nusantara Airlines (MNA) Bambang Bhakti di Sentani, Rabu (5/8).

"Semua penumpang dan awak pesawat dipastikan tewas akibat kecelakaan pesawat Twin Otter Merpati. Hal ini kami ketahui dari Tim Darat dan warga masyarakat Abmisibil yang sudah berada di lokasi jatuhnya pesawat tersebut," kata Bambang dengan suara penuh haru.

Dia mengatakan, Tim SAR yang terbang dengan Helikopter Kamov KA-32A 11BC/PK.JTC yang dipiloti Kapt Kim Don Yung dan kopilot Jung Yeon Woo serta observer Capt Pnb Fiko dengan membawa sedikitnya delapan anggota tim yang disebut Tim Udara tidak dapat mendarat di tempat jatuhnya pesawat Merpati itu sehingga akhirnya mereka mendarat di lapangan terbang perintis Abmisibil dan selanjutnya berjalan kaki menuju lokasi jatuhnya pesawat tersebut.

Dia mengatakan, diperkirakan, Tim Udara yang berjalan kaki itu akan tiba di lokasi pada tengah malam nanti.

Sementara itu, manajemen maskapai Merpati bersama tokoh-tokoh adat di Pegunungan Bintang Papua, Rabu, melakukan ritual adat. Ini karena daerah jatuhnya pesawat selalu tertutup kabut sehingga mengganggu evakuasi. Komisaris Utama Merpati, Mohammad Said Didu, Rabu sore di Jayapura, menuturkan daerah sekitar lokasi merpati jatuh cerah.

"Tetapi hanya daerah lokasi kejadian saja tertutup kabut. Cuaca sangat ekstrem, berubah-ubah," ujarnya. Said siang tadi sempat terbang dari Jayapura ke Oksibil. ia menyempatkan diri melihat lokasi tetapi tertutup kabut. 

Adapun Bambang Bhakti menuturkan, manajemen sangat menghormati adat masyarakat setempat. "Kami memberikan dukungan kepada tokoh adat dalam ritual adat," ujarnya. Namun, ia enggan menyebutkan jumlah babi yang dikorbankan untuk ritual. Diharapkan, langkah ini dapat memuluskan evakuasi.

Pesawat Twin Otter Merpati yang hilang dalam penerbangan dari Bandara Sentani, Jayapura, menuju Oksibil, Pegunungan Bintang, pada Minggu (2/8) diketahui jatuh di wilayah Abmisibil, Kabupaten Pegunungan Bintang.

Pesawat tersebut jatuh pada titik koordinat 140.36’84” Bujur Timur dan 04.42’25 Lintang Selatan di atas ketinggian 9.300 kaki. Lokasi jatuhnya pesawat tersebut ada pada 3 nautika mil dari arah Selatan Abmisibil, sedangkan dari Oksibil berjarak 20 nautika mil.

Badan pesawat yang jatuh itu pertama kali dilihat oleh Capten Erick Douglas yang menerbangkan pesawat berbadan kecil Cessna OK-RCY AMA milik Associated Mission Aviation (AMA) pada Selasa (4/8) pagi. Pesawat Merpati yang naas itu membawa tiga awak pesawat yakni pilot Qadrianova, kopilot Pramudya, dan teknisi Supriadi serta 12 penumpang. Dua di antara 12 penumpang itu adalah balita.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau