Lagi, Indonesia "Ekspor" Kabut Asap ke Malaysia

Kompas.com - 05/08/2009, 15:32 WIB

KUALA LUMPUR, KOMPAS.com — Kota Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (5/8), terselebung kabut asap yang berasal dari pembakaran lahan di Indonesia. Suasana tampak mendung cenderung gelap serta udara terasa getir.

Polusi karena asap itu menyebabkan kualitas udara memburuk di Kuala Lumpur dan negara bagian Serawak di Malaysia Timur. Kabut asap dari Indonesia terbang ke Malaysia dan Singapura setiap tahun pada musim kemarau ketika para petani di Indonesia secara ilegal membersihkan kebun dengan cara membakar lahan.

Departemen Lingkungan Malaysia mengungkapkan, kualitas udara sudah tidak sehat di enam wilayah di sekitar Kuala Lumpur dan Serawak. Dari 50 unit stasiun pemantau milik Malaysia, hanya tiga yang melaporkan kualitas udara yang "baik", yang lainnya "moderat".

Departemen Metereologi negara itu juga melaporkan, jarak pandang di sebuah kota di Serawak hanya sekitar 800 meter. Jarak pandang di Malaysia umumnya paling rendah empat kilometer. Dalam kondisi cuaca cerah jarak pandang bahkan bisa mencapai 10 kilometer.

Menteri Lingkungan Malaysia, Douglas Unggah Embas, pekan ini dijadwalkan terbang ke Riau untuk menghadiri pertemuan regional tentang penanganan masalah kabut asap ini.

Malaysia dan Singapura telah komplain soal kabut asap dari Indonesia sejak tahun 1997. Kondisi terburuk terakhir terkait kabut asap terjadi tahun 2006. Persoalan kabut asap ini telah menimbulkan masalah kesehatan dan kerugian jutaan dollar, antara lain akibat kehilangan pendapatan di sektor pariwisata dan penundaan penerbangan.

Indonesia sejauh ini mengaku kekurangan dana dan kemampuan untuk membendung praktik pembakaran lahan di Sumatera dan Kalimantan, dua pulau yang berdekatan dengan Malaysia dan Singapura.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau