KUALA LUMPUR, KOMPAS.com — Kota Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (5/8), terselebung kabut asap yang berasal dari pembakaran lahan di Indonesia. Suasana tampak mendung cenderung gelap serta udara terasa getir.
Polusi karena asap itu menyebabkan kualitas udara memburuk di Kuala Lumpur dan negara bagian Serawak di Malaysia Timur. Kabut asap dari Indonesia terbang ke Malaysia dan Singapura setiap tahun pada musim kemarau ketika para petani di Indonesia secara ilegal membersihkan kebun dengan cara membakar lahan.
Departemen Lingkungan Malaysia mengungkapkan, kualitas udara sudah tidak sehat di enam wilayah di sekitar Kuala Lumpur dan Serawak. Dari 50 unit stasiun pemantau milik Malaysia, hanya tiga yang melaporkan kualitas udara yang "baik", yang lainnya "moderat".
Departemen Metereologi negara itu juga melaporkan, jarak pandang di sebuah kota di Serawak hanya sekitar 800 meter. Jarak pandang di Malaysia umumnya paling rendah empat kilometer. Dalam kondisi cuaca cerah jarak pandang bahkan bisa mencapai 10 kilometer.
Menteri Lingkungan Malaysia, Douglas Unggah Embas, pekan ini dijadwalkan terbang ke Riau untuk menghadiri pertemuan regional tentang penanganan masalah kabut asap ini.
Malaysia dan Singapura telah komplain soal kabut asap dari Indonesia sejak tahun 1997. Kondisi terburuk terakhir terkait kabut asap terjadi tahun 2006. Persoalan kabut asap ini telah menimbulkan masalah kesehatan dan kerugian jutaan dollar, antara lain akibat kehilangan pendapatan di sektor pariwisata dan penundaan penerbangan.
Indonesia sejauh ini mengaku kekurangan dana dan kemampuan untuk membendung praktik pembakaran lahan di Sumatera dan Kalimantan, dua pulau yang berdekatan dengan Malaysia dan Singapura.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang