Bom Merajalela

Kompas.com - 07/08/2009, 06:41 WIB

KANDAHAR, KOMPAS.com - Sekelompok besar warga sipil yang tengah menuju ke sebuah pesta perkawinan dihantam bom di tepi jalan di Provinsi Helmand, Afganistan, 21 orang di antaranya tewas. Ledakan bom itu merupakan serangan terkini menjelang pemilu presiden pada 20 Agustus.

Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Afganistan, Zemarai Bashary, Kamis (6/8), mengatakan, warga sipil di Distrik Garmsir itu mengendarai traktor untuk menuju ke tempat pesta. ”Di tengah jalan, traktor dihantam bom. Akibatnya, 21 warga sipil, kebanyakan perempuan dan anak-anak, tewas,” katanya.

Kekerasan dan kematian meningkat tajam seiring dengan pasukan Barat yang merangsek ke wilayah kelompok Taliban menjelang pemilu presiden. Sekitar 4.000 marinir bergerak ke wilayah Garmsir pada bulan lalu untuk mengamankan jalanan dan pusat pertemuan warga.

Sebuah ledakan bom lain juga terjadi di Helmand kemarin, menewaskan lima polisi dan melukai tiga orang. Di bagian timur Afganistan, sebuah konvoi tanker yang mengangkut bahan bakar bagi pasukan internasional diserang kelompok Taliban dalam perjalanan dari Jalalabad menuju Kabul dan menewaskan dua pengemudinya.

Petani jadi korban

Di Provinsi Kandahar, tetangga Helmand, sebuah helikopter Apache milik pasukan AS, Rabu malam, melepaskan tembakan ke arah sekelompok orang yang dilihat tengah memuat senjata ke sebuah mobil van. Ternyata, mereka adalah sekelompok petani yang tengah memindahkan mentimun dari Distrik Zhari ke kota Kandahar sekitar pukul 11.30 malam waktu setempat.

Kepala Kepolisian Distrik Zhari mengatakan, lima petani tewas akibat tembakan itu. Sudah biasa bagi petani di selatan Afganistan bekerja pada malam hari karena tingginya temperatur musim panas. Kelompok Taliban juga menanam bom dan memindahkan persenjataan pada malam hari.

”Kami melihat orang-orang memuat senjata ringan ke sebuah van sebelum kami menembaknya. Informasi yang kami terima, mereka memuat senjata, bukan mentimun,” kata juru bicara militer AS, Christine Sidenstricker.

Berdasarkan data PBB, lebih dari 1.000 warga sipil tewas sepanjang Januari-Juni. Pada periode yang sama tahun lalu, jumlah korban tewas sebanyak 818 orang. Korban tewas di kalangan pasukan internasional dan pasukan Afganistan juga meningkat tajam. Pada bulan Juli saja, jumlah tentara internasional yang tewas mencapai 71 orang, menjadikan Juli bulan terburuk bagi pasukan internasional sejak AS memimpin perang menggulingkan Taliban tahun 2001.(ap/afp/reuters/fro)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau