Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Afganistan, Zemarai Bashary, Kamis (6/8), mengatakan, warga sipil di Distrik Garmsir itu mengendarai traktor untuk menuju ke tempat pesta. ”Di tengah jalan, traktor dihantam bom. Akibatnya, 21 warga sipil, kebanyakan perempuan dan anak-anak, tewas,” katanya.
Kekerasan dan kematian meningkat tajam seiring dengan pasukan Barat yang merangsek ke wilayah kelompok Taliban menjelang pemilu presiden. Sekitar 4.000 marinir bergerak ke wilayah Garmsir pada bulan lalu untuk mengamankan jalanan dan pusat pertemuan warga.
Sebuah ledakan bom lain juga terjadi di Helmand kemarin, menewaskan lima polisi dan melukai tiga orang. Di bagian timur Afganistan, sebuah konvoi tanker yang mengangkut bahan bakar bagi pasukan internasional diserang kelompok Taliban dalam perjalanan dari Jalalabad menuju Kabul dan menewaskan dua pengemudinya.
Di Provinsi Kandahar, tetangga Helmand, sebuah helikopter Apache milik pasukan AS, Rabu malam, melepaskan tembakan ke arah sekelompok orang yang dilihat tengah memuat senjata ke sebuah mobil van. Ternyata, mereka adalah sekelompok petani yang tengah memindahkan mentimun dari Distrik Zhari ke kota Kandahar sekitar pukul 11.30 malam waktu setempat.
Kepala Kepolisian Distrik Zhari mengatakan, lima petani tewas akibat tembakan itu. Sudah biasa bagi petani di selatan Afganistan bekerja pada malam hari karena tingginya temperatur musim panas. Kelompok Taliban juga menanam bom dan memindahkan persenjataan pada malam hari.
”Kami melihat orang-orang memuat senjata ringan ke sebuah van sebelum kami menembaknya. Informasi yang kami terima, mereka memuat senjata, bukan mentimun,” kata juru bicara militer AS, Christine Sidenstricker.
Berdasarkan data PBB, lebih dari 1.000 warga sipil tewas sepanjang Januari-Juni. Pada periode yang sama tahun lalu, jumlah korban tewas sebanyak 818 orang. Korban tewas di kalangan pasukan internasional dan pasukan Afganistan juga meningkat tajam. Pada bulan Juli saja, jumlah tentara internasional yang tewas mencapai 71 orang, menjadikan Juli bulan terburuk bagi pasukan internasional sejak AS memimpin perang menggulingkan Taliban tahun 2001.