SINGAPURA, KOMPAS.com —
Pemandangan asap ini amat mencolok terlihat dari puncak Swissotel, tempat Menteri Senior Singapura Goh Chok Tong menjamu makan siang sekitar 25 wartawan dari sejumlah negara ASEAN dan Timur Tengah. Goh Chok Tong tidak berkomentar, mantan PM Singapura ini hanya melihat asap yang memperpendek jarak pandang itu.
Singapura sudah mencoba membantu Indonesia dalam upaya memadamkan kebakaran hutan atau lahan di Provinsi Jambi.
”Tetapi kami punya keterbatasan dan tidak bisa menolong wilayah lain,” kata seorang pejabat Singapura, yang tidak mau disebutkan namanya. ”Jakarta malah untung, jarang kena asap.”
Keuntungan Singapura, asap jarang bertahan selama berhari-hari karena tiupan angin memudahkan asap lenyap. Hal ini berbeda dengan Kuala Lumpur, yang ada di lingkungan cekung sehingga asap dari Indonesia dan Sarawak relatif lebih sulit lenyap.
Meskipun demikian, secara umum polusi asap di Singapura saat ini belum mengganggu aktivitas dan penerbangan.
Berdasarkan informasi dari Badan Lingkungan Hidup Nasional (NEA), Indeks Standar Polutan (The Pollutant Standards Index/PSI) berada pada angka 52, atau polusi udara relatif moderat. NEA mengatakan, indeks pada level itu belum mencapai tahap yang mengkhawatirkan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang