BOGOR, KOMPAS.com - Masyarakat masih memandang sebelah mata terhadap Syariah, mereka lebih tertarik dengan bank konvensional. Dr. H. Faturrahman Djamil, Wakil Ketua, Dewan Pengawas Syariah, hal tersebut bukan dikarenakan kemampuan bank syariah dibawah bank konvensional, melainkan kurangnya sosialisasi kepada masyarakat.
"Masyarakat belum terbiasa dengan istilah Syariah. Bank istilah-istilah tidak dimengerti oleh masyarakat," ujarnya di Bogor, Jumat (7/8).
Ia menuturkan, istilah dalam bank syariah memang berasal dari bahasa Arab, sehingga hanya sedikit masyarakat yang mengerti dan tertarik olehnya. Padahal keuntungan yang ditawarkan bank Syariah tidak kalah dengan bank konvensional. "Investasi pada bank syariah lebih aman dan terhindar dari derivatif," jelas dia.
Selain kurang sosialisasi, kata Fathurahman, bank syariah juga masih teganjal oleh peraturan yang adalah pajak yang ada. Seharusnya seluruh produk syariah tidak lagi ditarik pajak. "Seharusnya ada revisi Undang-undang perpajakan. Produk Syariah masuk ke pembiayaan, dengan harapan double tax dihilangkan," ujar dia.
Sumber daya manusia, kata dia juga masih menjadi permasalahan. Kemampuan pegawai menangani perbankan syariah masih kurang. "Untuk itu perlu ada pelatiha-pelatihan. Jumlah pegawainya pun harus ditambah," kata dia.
Sementara itu, Didi Hadi Sunaryo, Kepala Divisi Syariah Banking CIMB Group, mengatakan, kurang berkembanhnya perbankan syariah di Indonesia karena masyarakat belum mengerti sepenuhnya arti dari bank syariah.
"Bank syariah itu berbeda dengan konvensional. Kalau di bank syariah, yang dijual adalah performance, bukan bunga," jelasnya.
Dengan begitu, kata dia, keuntungan yang didapat masyarakat disesuaikan dengan keuntungan yang didapat bank tersebut. "Hal itu yang membuat masyarakat menganggap menabung di Syariah seperti gambling," sesal dia.
Selanjutnya ia menuturkan perkembangan bank syariah di Indonesia juga masih terhambat oleh regulator. "Fungsi bank syariah sebagai bank investasi, dengan produk yang lebih tradisional dibanding bank konvensional. BI tidak mengizinkan bank syariah menjadi bank investasi," jelas dia.
Didi menyayangkan hal tersebut, pasalnya dengan keuntungan yang bisa didapat masyarakat, pemerintah memberikan seharusnya memberikan kemudahan untuk berdirinya bank Syariah. "Indonesia masih perlu support dari pemerintah dan regulator," tukasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang