Bom di Tepi Kali Cikeas

Kompas.com - 09/08/2009, 07:10 WIB

KOMPAS.com — Sabtu (8/8) dini hari, sekitar pukul 02.30, suasana mencekam masih terasa menyiksa di Perumahan Puri Nusa Phala, Jatiasih, Bekasi. Beberapa gelintir warga tampak masih tertegun melemparkan pandangan ke arah sebuah rumah mungil di Blok D Nomor 12, yang kini dikepung Tim Polisi Antiteror. Polisi baru saja menewaskan dua orang di sebuah mobil Daihatsu Xenia merah di depan rumah itu.

Kedua sasaran yang tewas itu adalah Air Setyawan dan Eko Joko S. Mereka diduga sebagai penyedia bahan peledak dan pembuat bom. Di rumah itu juga polisi lalu menemukan ratusan kilogram bahan peledak, empat bom pipa, dua bom jebakan, dan mobil bak terbuka untuk bom mobil.

Sebelumnya, sekitar pukul 01.00, Sundoyo baru saja memejamkan mata karena rasa kantuk semakin tidak tertahan. Namun, dari luar rumah terdengar suara seseorang yang memanggil namanya. Meskipun masih didera rasa kantuk, Sundoyo, Ketua RT 04, bergegas bangun membuka pintu rumah.

Di luar rumah, beberapa orang sudah menunggu Sundoyo. Mereka mengenalkan diri sebagai polisi dan meminta Sundoyo memberi tahu warga setempat agar warga bangun dan meninggalkan rumah untuk sementara waktu. ”Kata polisi, ini demi keamanan dan keselamatan warga,” kata Sundoyo.

Malam itu, Tim Polisi Antiteror mengepung sebuah rumah di Blok D, RT 03 RW 12, Perumahan Puri Nusa Phala. Penghuni rumah itu diduga kuat anggota jaringan Noordin M Top, buronan paling dicari.

”Tembakan mulai terdengar sekitar jam 01.30,” tutur Mariati, penghuni rumah di Blok C.

Polisi sudah mengintai rumah kontrakan itu sejak beberapa hari lalu. Polisi menyebutkan, rumah itu sempat menjadi tempat persembunyian Noordin M Top pascapeledakan di Hotel JW Marriott dan The Ritz-Carlton. Sementara itu, sebelum pengeboman itu, lokasi persembunyian lainnya adalah di kawasan Mampang, Jakarta Selatan.

Ketua RW 12 Djufri Umar menerangkan, perumahan ini dibangun untuk karyawan PT Citra Marga Nusa Phala Persada. Lokasi perumahan ini berbatasan dengan wilayah Bogor dan relatif dekat ke Gunung Putri, Bogor. Dari kediaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hanya sekitar 12 menit.

Sundoyo mengatakan, rumah milik Suparno itu pernah dikontrak tentara. Adapun pengontrak baru sejak 15 Juli 2009 adalah seorang lelaki yang mengaku bernama Ahmad Fery (Amir Abdillah). Amir dan teman-temannya baru menempati rumah itu 17 Juli 2009. Amir pernah mengaku kepada Sundoyo bekerja di proyek pembangunan rumah di wilayah Cibubur dan Cikeas, Bogor. Perumahan Puri Nusa Phala ini berbatasan dengan wilayah Bogor.

”KTP yang dia berikan adalah KTP Kota Bekasi, alamatnya di Bekasi Utara,” kata Sundoyo.

Rumah yang dihuni jaringan teroris di Blok D 12 itu terletak di tepi jalan paling belakang di Perum Puri Nusa Phala, yang langsung berhadapan dengan tembok pembatas kompleks perumahan. Di seberang tembok setinggi 1,5 meter itu mengalir Kali Cikeas yang dikepung oleh semak belukar yang cukup luas.

Tiga hari sebelumnya, seorang warga, Imam Ali Basha (32), curiga dengan gerak-gerik seorang lelaki yang hendak memasuki rumah Ahmad Fery. Maklum, pria itu masuk rumah lewat jendela, sedangkan hari sudah gelap, seiring usainya para warga menunaikan shalat magrib.

Imam langsung menegur si pria. ”Saya waktu itu bilang, ’Hei, ngapain magrib-magrib?’,” tutur Imam kepada para wartawan, Sabtu (8/8) pagi. Ketika yang ditegur menoleh, ia segera sadar bahwa pria yang dicurigai adalah Ahmad Fery, warga yang mengontrak rumah itu.

Kepada Imam, Ahmad mengaku terpaksa masuk lewat jendela karena kunci tertinggal di dalam rumah. Imam pun meneruskan langkah, sembari menyimpan kecurigaannya dalam-dalam. Ternyata, dari hari ke hari, penasaran Imam bertumpuk. Sebab, ia mendengar makin banyak tetangga yang melihat Ahmad masuk lewat jendela dan beralasan kunci tertinggal.

Saat polisi menyerbu rumah itu, baru diketahui bahwa pintu rumah itu dipasangi bom penjebak. Menjelang fajar, polisi akhirnya terpaksa meledakkan bom itu. Suara menggelegar memecah pagi. Namun, warga lega, setidaknya ancaman berbahaya telah berlalu. (SF/COK/CAL/ADP)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau