JAKARTA, KOMPAS.com — Ada tiga faktor utama mencegah terjadinya kecelakaan saat mengendarai mobil, yakni defensive, safety, dan, eco driving. Ketiga unsur ini yang menjadi poin utama dalam kegiatan pelatihan Driving Skills for Live (DSFL) yang kembali diselenggarakan PT Ford Motor Indonesia (FMI) berlokasi di Lapangan Multi Fungsi Polri, Cikeas, Jawa Barat, Jumat (7/8).
Kompas.com dan puluhan rekan media lainnya memperoleh kesempatan untuk mengikuti pelatihan ini. Sebelum praktik, terlebih dahulu diberikan pelajaran teori oleh Dodi Budiono, instruktur keselamatan dari Indonesia Defensive Driving Center (IDDC).
Dijelaskannya, bagaimana cara menjadi mengemudi yang pintar (smart), termasuk tiga faktor utama di atas. Selain itu, dipaparkan juga 10 tips DSFL supaya bisa menerapkan cara berkendara yang pintar. Di antaranya perlindungan diri, pengendalian emosi, hingga tanggung jawab melindungi lingkungan sekitar.
"Kita tidak bisa menduga kapan kecelakaan akan terjadi, dan seberapa besar kecelakaan itu. Smart driving harus dimulai dari dalam hati bukan karena keterpaksaan. Menyadari bahwa penyebab utama kecelakaan, ya orang bukan mobilnya," papar Dodi.
Ucapannya di atas bukan tanpa bukti. Dari data Asian Development Bank 2003, seluruh kecelakaan lalu lintas di Indonesia sebanyak 24,5 juta, 97 persen diakibatkan faktor manusia (human error). Perbandingannya, 16 persen mobil dan 73 persen motor. Dari jumlah ini, menghasilkan 1 juta korban luka-luka dan 30.000 meninggal dunia.
Uji coba
Kesepuluh tips mengemudi di antaranya mengandung unsur keamanan, kenyamanan, dan penghematan dalam berkendara dipaparkan. Sambil diperlihatkan beberapa kasus kecelakaan melalui video yang memaksa kita mengerutkan dahi. Misalnya, dalam suatu kecelakaan mobil, satu orang tewas seketika. Tubuhnya terpental seperti pinball lantaran tak mengenakan sabuk pengaman.
Beberapa video kecelakaan akibat human error ditayangkan seperti posisi mengemudi, gangguan berkendara, jarak aman, blind spot, hingga pengoperasian gigi transmisi yang ideal untuk menghemat konsumsi bahan bakar.
Setelah dibekali teori, rombongan wartawan diajak menuju lapangan untuk mempraktikkan teknik mengemudi yang pintar. Sebanyak delapan unit Ford terdiri dari Everest (dua unit), Escape (dua), Focus (dua), dan Ranger disiapkan.
Pelajaran pertama, bagaimana mengemudi slalom dalam kecepatan rendah dengan arah jalan maju dan mundur. Terdapat lima cone berjejer di setiap jalur yang disediakan. Kompas.com memperoleh kesempatan menjajal rintangan ini menggunakan Focus.
Rintangan kedua, peserta diajak merasakan fungsi dari fitur anti-brake system (ABS) yang terdapat pada setiap varian Ford. Untuk menjajalnya, disediakan rintangan jalur lurus yang di satu sisinya disemprotkan cairan sabun. Pengemudi diwajibkan menekan pedal rem sekeras mungkin pada lokasi yang telah ditentukan.
Selanjutnya, disiapkan jalur yang mirip dengan latihan slalom pada rintangan pertama dengan lima cone berjejer di tengah. Terakhir, pengemudi diinstruksilan berkendara dengan kecepatan maksimal 40 km/jam, sementara di ujung jalan disiapkan jalur berbentuk huruf 'Y'. Di persimpangan diberikan tanda berupa lampu, di mana pengemudi wajib menginjak rem dan memilih jalur sesuai warna yang bersinar (hijau ke kanan, merah ke kiri).
Pada kesempatan ini, Kompas.com menjajal semua rintangan menggunakan Focus sedan untuk non-ABS, serta Everest dengan ABS. Jadi di sesi ini, pengemudi dipersilakan untuk memutari empat kali jalur yang ada, membedakan sensasi dengan dan tanpa ABS.
Dukungan
Program DSFL ini didukung oleh Departemen Perhubungan, Kepolisian Republik Indonesia, dengan sertifikasi pelatihan dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) yang diluncurkan pertama kali 25 Oktober 2008.
Pelaksanaan program ini dilakukan FMI berkaitan dengan kampanye corporate social responsibility (CSR) perusahaan. Menjelang datangnya musim mudik pada bulan Ramadhan, pelatihan akan diberikan pada unsur pendukung perusahaan, termasuk dealer, komunitas, dan tentunya konsumen Ford.
"Kami juga akan melaksanakan kegiatan DFSL secara teori melalui situs jejaring sosial yang ada seperti Facebook dan Twitter. Langkah ini dilakukan untuk bisa mengenalkan DSFL ke seluruh lapisan masyarakat yang lebih luas. Dengan keterbatasan yang kami miliki, maka dicoba melalui cara ini," singkat Presiden Direktur FMI Will Angove.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang