Mengemudi Pintar dan Cegah Kecelakaan dari Ford Indonesia

Kompas.com - 09/08/2009, 07:37 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Ada tiga faktor utama mencegah terjadinya kecelakaan saat mengendarai mobil, yakni defensive, safety, dan, eco driving. Ketiga unsur ini yang menjadi poin utama dalam kegiatan pelatihan Driving Skills for Live (DSFL) yang kembali diselenggarakan PT Ford Motor Indonesia (FMI) berlokasi di Lapangan Multi Fungsi Polri, Cikeas, Jawa Barat, Jumat (7/8).

Kompas.com dan puluhan rekan media lainnya memperoleh kesempatan untuk mengikuti pelatihan ini. Sebelum praktik, terlebih dahulu diberikan pelajaran teori oleh Dodi Budiono, instruktur keselamatan dari Indonesia Defensive Driving Center (IDDC).

Dijelaskannya, bagaimana cara menjadi mengemudi yang pintar (smart), termasuk tiga faktor utama di atas. Selain itu, dipaparkan juga 10 tips DSFL supaya bisa menerapkan cara berkendara yang pintar. Di antaranya perlindungan diri, pengendalian emosi, hingga tanggung jawab melindungi lingkungan sekitar.

"Kita tidak bisa menduga kapan kecelakaan akan terjadi, dan seberapa besar kecelakaan itu. Smart driving harus dimulai dari dalam hati bukan karena keterpaksaan. Menyadari bahwa penyebab utama kecelakaan, ya orang bukan mobilnya," papar Dodi.

Ucapannya di atas bukan tanpa bukti. Dari data Asian Development Bank 2003, seluruh kecelakaan lalu lintas di Indonesia sebanyak 24,5 juta, 97 persen diakibatkan faktor manusia (human error). Perbandingannya, 16 persen mobil dan 73 persen motor. Dari jumlah ini, menghasilkan 1 juta korban luka-luka dan 30.000 meninggal dunia.

Uji coba

Kesepuluh tips mengemudi di antaranya mengandung unsur keamanan, kenyamanan, dan penghematan dalam berkendara dipaparkan. Sambil diperlihatkan beberapa kasus kecelakaan melalui video yang memaksa kita mengerutkan dahi. Misalnya, dalam suatu kecelakaan mobil, satu orang tewas seketika. Tubuhnya terpental seperti pinball lantaran tak mengenakan sabuk pengaman.

Beberapa video kecelakaan akibat human error ditayangkan seperti posisi mengemudi, gangguan berkendara, jarak aman, blind spot, hingga pengoperasian gigi transmisi yang ideal untuk menghemat konsumsi bahan bakar.

Setelah dibekali teori, rombongan wartawan diajak menuju lapangan untuk mempraktikkan teknik mengemudi yang pintar. Sebanyak delapan unit Ford terdiri dari Everest (dua unit), Escape (dua), Focus (dua), dan Ranger disiapkan.

Pelajaran pertama, bagaimana mengemudi slalom dalam kecepatan rendah dengan arah jalan maju dan mundur. Terdapat lima cone berjejer di setiap jalur yang disediakan. Kompas.com memperoleh kesempatan menjajal rintangan ini menggunakan Focus.

Rintangan kedua, peserta diajak merasakan fungsi dari fitur anti-brake system (ABS) yang terdapat pada setiap varian Ford. Untuk menjajalnya, disediakan rintangan jalur lurus yang di satu sisinya disemprotkan cairan sabun. Pengemudi diwajibkan menekan pedal rem sekeras mungkin pada lokasi yang telah ditentukan.

Selanjutnya, disiapkan jalur yang mirip dengan latihan slalom pada rintangan pertama dengan lima cone berjejer di tengah. Terakhir, pengemudi diinstruksilan berkendara dengan kecepatan maksimal 40 km/jam, sementara di ujung jalan disiapkan jalur berbentuk huruf 'Y'. Di persimpangan diberikan tanda berupa lampu, di mana pengemudi wajib menginjak rem dan memilih jalur sesuai warna yang bersinar (hijau ke kanan, merah ke kiri).

Pada kesempatan ini, Kompas.com menjajal semua rintangan menggunakan Focus sedan untuk non-ABS, serta Everest dengan ABS. Jadi di sesi ini, pengemudi dipersilakan untuk memutari empat kali jalur yang ada, membedakan sensasi dengan dan tanpa ABS.

Dukungan

Program DSFL ini didukung oleh Departemen Perhubungan, Kepolisian Republik Indonesia, dengan sertifikasi pelatihan dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) yang diluncurkan pertama kali 25 Oktober 2008.

Pelaksanaan program ini dilakukan FMI berkaitan dengan kampanye corporate social responsibility (CSR) perusahaan. Menjelang datangnya musim mudik pada bulan Ramadhan, pelatihan akan diberikan pada unsur pendukung perusahaan, termasuk dealer, komunitas, dan tentunya konsumen Ford.

"Kami juga akan melaksanakan kegiatan DFSL secara teori melalui situs jejaring sosial yang ada seperti Facebook dan Twitter. Langkah ini dilakukan untuk bisa mengenalkan DSFL ke seluruh lapisan masyarakat yang lebih luas. Dengan keterbatasan yang kami miliki, maka dicoba melalui cara ini," singkat Presiden Direktur FMI Will Angove.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau