Partai Tamil Menang di Vavuniya, Kalah di Jaffna

Kompas.com - 10/08/2009, 07:23 WIB
KOLOMBO, KOMPAS.com - Partai yang mendukung kelompok pemberontak Macan Tamil, Aliansi Nasional Tamil, memenangi lima kursi di Dewan Kota Vavuniya, sementara Partai Aliansi Rakyat Presiden Mahinda Rajapakse hanya menempatkan dua kandidatnya di dewan kota tersebut.

Meski demikian, untuk wilayah Jaffna, Partai Aliansi Rakyat (PA) memenangi 13 kursi, mengalahkan Aliansi Nasional Tamil (TNA) yang mendapatkan delapan kursi.

Pemungutan suara yang diselenggarakan Sabtu (8/8) itu merupakan yang pertama setelah tentara Pemerintah Sri Lanka menumpas Macan Tamil dan dipandang sebagai upaya pemerintah untuk mengukur tingkat popularitasnya sejak pertempuran berakhir dengan kemenangan, Mei lalu.

Meski demikian, tingkat partisipasi rakyat Tamil dalam pemungutan suara sangat kecil. Dari 125.000 pemilik hak suara, hanya 28 persen yang menggunakan haknya di Jaffna dan Vavuniya.

”Kemenangan Aliansi Nasional Tamil di Dewan Vavuniya merupakan sebuah tanda bahwa di sana ada demokrasi. Itu juga menunjukkan bahwa pemungutan suara berlangsung bebas dan jujur,” kata seorang pejabat senior pemerintah setempat, Minggu.

Pejabat yang enggan disebutkan namanya itu menambahkan, hasil tersebut menunjukkan Macan Tamil bisa masuk ke jalur politik utama jika mereka sepakat atas seruan pemerintah untuk meletakkan senjata dan meneruskan pembicaraan damai.

TNA dibentuk oleh para mantan pemberontak dan kelompok moderat Tamil untuk bertarung pada Pemilu 2004. Ketika itu, mereka mendapatkan 22 kursi di parlemen nasional.

Meski tingkat partisipasi di Vavuniya rendah, partai Presiden Rajapakse menang mutlak di sejumlah daerah pemilihan lainnya. Di Dewan Provinsi Uva, PA memenangi 25 dari 34 kursi dan mengurangi kursi yang sebelumnya ditempati partai oposisi utama, Partai Persatuan Nasional (UNP), menjadi tujuh kursi.

Tuntut penyelidikan

Kelompok Macan Tamil, Minggu, menuntut sebuah penyelidikan terhadap bagaimana pemimpin baru mereka ditangkap di Malaysia dan diterbangkan kembali ke Sri Lanka untuk diinterogasi.

Visuvanathan Rudrakumaran, seorang tokoh senior Macan Tamil, mengatakan, Malaysia harus mengumumkan rincian ”penculikan” Selvarasa Kumaran Pathmanathan.

Para pejabat di Kolombo menolak mengatakan bagaimana Pathmanathan ditangkap, tetapi Pemerintah Thailand mengatakan dia ditangkap di Kuala Lumpur, Rabu (5/8), dan dikirimkan ke Sri Lanka melalui Bangkok.

”Jika Pemerintah Malaysia tidak mempunyai informasi mengenai hal itu, kami menuntut sebuah penyelidikan atas keseluruhan peristiwa,” kata Rudrakumaran dalam pernyataan lewat e-mail.

Pathmanathan yang mengambil alih jabatan ketua Macan Tamil setelah ketua pendiri Velupillai Prabhakaran tewas pada penyerbuan akhir tentara Sri Lanka, Mei lalu, berupaya untuk membangkitkan kembali kelompok pemberontak itu dari luar Sri Lanka.

Seorang juru bicara Departemen Pertahanan Sri Lanka mengatakan, Jumat, Pathmanathan tengah diinterogasi di Sri Lanka, tetapi menolak menjelaskan bagaimana dia ditahan.

Pathmanathan masuk dalam daftar pencarian oleh Interpol atas tuduhan penyelundupan senjata dan oleh Pemerintah India dalam kaitan pembunuhan mantan Perdana Menteri Rajiv Gandhi pada 1991.

Juru bicara Dephan Sri Lanka, Keheliya Rambukwella, Sabtu, mengatakan, Pemerintah Sri Lanka siap mengekstradisi Pathmanathan setelah penyelidikan awal selesai jika Pemerintah India menginginkannya.

Ekstradisi Pathmanathan itu disebutkan akan dilakukan sesuai dengan aturan-aturan internasional. Akan tetapi, sejauh ini permintaan ekstradisi atas Pathmanathan dari India belum ada. (AP/AFP/OKI)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau