KOMPAS.com — PENANGKAPAN Aris Susanto (31) dan Indra Arif Hermawan (22), sebelumnya juga disebut Arif dan Hendra, dua kakak beradik warga Desa Kedu, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, yang diduga terkait jaringan terorisme sangat mengejutkan warga di desanya.
Berbeda dengan ciri-ciri orang yang diduga terkait terorisme, kakak beradik itu bukanlah sosok yang memiliki pemahaman agama dogmatis, kaku, dan kuat. Keduanya justru lebih dikenal sebagai pemuda nakal di desanya, meski dalam tiga tahun terakhir mulai insyaf.
Kedua pemuda tersebut dituduh membantu buron utama terorisme di Indonesia, Noordin M Top, dalam mengembangkan jaringannya di Temanggung. Aris jugalah yang diduga menyembunyikan pria yang diduga Noordin M Top di rumah pamannya, Muhdjahri (61) di Dusun Beji, Desa Kedu, Jumat (7/8) dini hari.
Berdasarkan informasi dari Aris dan Indra pulalah drama penangkapan pria misterius itu bermula. Drama penangkapan yang bakal tak terlupakan di benak warga Kedu.
"Aris itu orangnya kalau mengaji celelekan (semaunya sendiri). Sering tidak seriusnya. Membaca hadist dan Al Quran aja tidak fasih. Jadi, saya heran dia bisa dituduh teroris yang biasanya hafal Al Quran dan Hadist," kata Lutfi Syarifudin (22), rekan satu kelompok pengajian Aris dan Indra, Senin (10/8).
Aris dan Indra adalah anak kedua dan keempat dari lima bersaudara buah perkawinan Utomo (61) dan Darpinah (57). Sejak kecil, keduanya lebih dikenal orang-orang dekatnya sebagai anak nakal. Kenakalan tersebut sudah tumbuh sejak keduanya duduk di bangku SMP.
Untuk menamatkan bangku SMP, Aris harus berpindah dua kali, sedangkan untuk menamatkan pendidikan SMA-nya, dia harus berpindah di empat sekolah berbeda. Indra bahkan tak sempat lulus SMA. Dua kali Indra dikeluarkan dari pondok pesantren, yakni saat di Ponpes Assalam Magelang dan sebuah ponpes di Jepara.
"Mereka kerap drop out dari sekolah karena memang nakal, terutama berkelahi dengan teman-temannya. Aris pernah ditangkap polisi karena kasus narkoba juga," ujar Freddy Gustav (20), adik Aris dan Indra saat bertutur tentang dua kakaknya itu.
Pada tahun 2001, Darpinah pergi ke Arab Saudi untuk bekerja. Alasan utamanya adalah kesedihannya melihat kenakalan dua anak lelakinya itu tak pernah berhenti.
"Satu tahun saya di Arab. Pulang dari Arab saya jatuh sakit. Waktu sakit, saya bilang ke Aris dan Indra kalau mereka tak berhenti nakal, saya akan terus menderita sakit," tutur Darpinah.
Ancaman ibunya itu membuat Aris dan Indra mulai sedikit mengubah perilakunya. Tahun 2003 Aris pun menikah dengan gadis dari tetangga desa. Meski demikian, kenakalan Aris belum hilang sepenuhnya. Pada tahun 2005, dia bercerai.
Pada tahun 2006, Aris kembali menikah, sedangkan Indra menikah untuk kali pertama. Sejak pernikahannya itu, mereka mulai terlihat tidak lagi nakal. Keduanya lebih sibuk mengurus bengkel sepeda di dekat Pasar Kedu. Keduanya juga mulai mengikuti pengajian-pengajian taklim di berbagai tempat.
Kepala Desa Kedu, Purnomo Hadi, mengakui, selama tiga tahun terakhir, Aris dan Indra sudah mengubah sikap, dari pemuda kasar dan ugal-ugalan menjadi sosok yang baik dan sopan. "Sejauh ini saya melihat mereka sudah berubah baik. Jika sebelumnya hanya pengangguran yang luntang-lantung tidak keruan, sekarang mereka terlihat lebih bertanggung jawab," kata dia.
Selain membuka bengkel sepeda, keduanya juga menjual madu herbal di rumahnya. Sebulan lalu, Indra dan Lutfi membuka toko buku di rumah Indra.
Tiap Senin-Kamis dan Minggu Pahing, kakak beradik itu ikut pengajian rutin. Pengajian yang sudah dilakukan sejak setahun terakhir ini dilakukan berpindah-pindah dengan anggota sebanyak 10 orang. Awalnya, lokasi pengajian dilakukan di Masjid Ikhlasul Amal, Kedu. Namun, karena tak mendapat izin dari pengelola, pengajian pun berpindah-pindah.
Lutfi membantah pengajian itu mempelajari perihal Al Manhad Al Islamiyyah maupun penegakan syariat agama Islam dalam negara seperti yang banyak diyakini kelompok jaringan teroris. "Kami hanya belajar bahasa Arab dan sesekali mengaji Hadist dan Al Qu ran," kata dia.
Dari 10 anggota kelompok pengajian, lanjut dia, semuanya berasal dari Desa Kedu, tak satu pun dari luar daerah. Dia juga tak pernah melihat orang mirip Noordin M Top yang dituduhkan kerap bertemu dengan Aris dan Indra dalam pengajian untuk mengindoktrinasi keduanya. "Pengajian itu dipimpin seorang mahasiswa dari UNY, Pak Sarwadi. Dia hanya mengajari bahasa Arab, tidak lebih," kata dia.
Aris dan Indra termasuk peserta pengajian yang paling lambat dalam belajar. "Keduanya lebih banyak bercanda dan mengganggu temannya selama mengaji. Kenakalan mereka belum hilang," kata Lutfi.
Suatu kali Lutfi pernah menanyakan perihal kasus pengeboman Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton kepada Aris. Dengan enteng Aris menjawab, jihad kok pakai bom. "Aku tak mau seperti itu," tutur Lutfi menirukan Aris.
Berbeda dengan Aris, Indra relatif tertutup dan pendiam meskipun sama-sama agresif. Tak banyak pemikiran yang dikemukakan pemuda ini kepada orang-orang di dekatnya.
Lutfi menduga, bila sampai Aris dan Indra benar terkait dengan jaringan terorisme, hal itu mungkin karena ada orang yang menghasutnya. Dengan pemahaman agama yang masih minim, keduanya mudah untuk diarahkan menjadi ekstrem.
"Mungkin mereka pernah bertemu sama orang lain yang kami semua tidak mengetahuinya," kata dia.
Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Puwokerto, Machfudin Yusuf, mengatakan, pemahaman agama yang minim dan keterpinggiran secara sosial ekonomi membuat orang mudah terhasut oleh jaringan terorisme yang mengatasnamakan agama.
Persoalan ekonomi dan pemahaman agama yang kurang mudah dimasuki indoktrinasi. "Apalagi bila indoktrinasi itu dibungkus dalam bentuk janji-janji surga membuat seseorang mudah terpengaruh," ujar Machfudin.
Di saat yang sama, organisasi sosial keagamaan besar semacam Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, bahkan pemerintah kurang bisa menyentuh dan memberdayakan umat hingga relung desa. Maka, dengan leluasa, kaki tangan anasir gelap semacam Noordin mudah menyentuh mereka.
Aris dan Indra hanyalah dua dari sekian banyak potret pemuda di negeri ini yang mengalami tekanan sosial ekonomi dan minim tersentuh pemahaman agama secara baik. Penangkapan terus-menerus terhadap mereka tak akan menyelesaikan pokok persoalan. Semua pihak yang terkait harus bekerja keras agar pemuda semacam mereka tak terjerumus.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang