Terlalu, Listrik Mati 18 Jam!

Kompas.com - 11/08/2009, 00:18 WIB

KARIMUN, KOMPAS.com - Sejumlah warga di tiga kecamatan Pulau Karimun Besar, Provinsi Kepri kembali mendemo PLN Tanjung Balai Karimun (TBK), Senin (10/8)malam, terkait padamnya aliran listrik hampir 18 jam sejak pukul 02.30 dinihari di rumah mereka.
    
"Sebenarnya kami sudah jenuh ke sini, karena demo yang kami lakukan tidak pernah ada solusinya. Buktinya, lampu di lingkungan kami padam hampir 18 jam," ujar Denny, warga Kelurahan Sei Lakam saat berdemo di komplek mesin pembangkit PLN di Bukit Carok, Kecamatan Tebing, Senin malam.
    
Menurut Denny, listrik di rumahnya padam sejak pukul 02.30 WIB dinihari dan ketika dia menggelar demo tersebut listrik masih belum menyala. "Kami tidak bisa beraktivitas, air di rumah tidak mengalir karena kami tidak bisa menyalakan mesin air, belum lagi kegiatan lainnya juga ikut terganggu," ujarnya.
    
Dia mengatakan, kondisi rumah yang gelap akibat pemadaman juga rawan kejahatan, serta tidak nyaman dengan penerangan lampu pelita seadanya. "Peralatan elektronik kami juga rusak akibat pemadaman mendadak itu," katanya lagi.
    
Maryana, warga Lubuk Semut mengeluhkan hal yang sama. Wanita separuh baya itu tak henti-hentinya berbicara di depan puluhan polisi yang mengawal aksi demo itu. "Seharusnya pimpinan PLN sportif menemui kami untuk menjelaskan alasan pemadaman itu, apalagi itu sudah tidak sesuai jadwal," ucapnya.
    
Dia mengaku, malam itu sedang menggelar acara kenduri menyambut bulan puasa di rumahnya. Namun, akibat pemadaman malam itu acara tersebut jadi terganggu sehingga memaksa dirinya untuk datang berdemo. "Setiap bulan bayar tagihan, terlambat membayar sambungan listrik di rumah kami diputus. Tapi pelayanan yang kami terima tidak pernah memuaskan," katanya.
    
Susanto, warga lainnya malah mengaku listrik di rumahnya padam berselang siang dan malam selama tiga hari berturut-turut. "PLN tidak pernah serius menuntaskan krisis listrik, sudah empat tahun kondisi seperti itu dibiarkan saja tanpa solusi yang jelas, padahal kami membayar tagihan setiap bulan," kata warga Tebing ini.
    
Aksi demo itu berlangsung hampir satu jam, mereka akhirnya bubar tanpa berhasil menemui petugas PLN untuk meminta agar listrik di rumah mereka dinyalakan.
    
Pantauan di lapangan, aliran listrik padam hampir merata di tiga kecamatan Pulau Karimun Besar, di sepanjang jalan Pertambangan menuju Kecamatan Tebing gelap, begitu juga di pusat kota dan Sei Pasir, Kecamatan Meral. 
    
Lampu yang padam hampir 18 jam di sejumlah daerah ini baru menyala sekitar pukul 21:00 WIB.
    
Menurut sumber di lapangan, pemadaman tersebut karena adanya  kerusakan pada sejumlah mesin pembangkit yang mengakibatkan tidak mengalirnya listrik pada 26 travo di tiga kecamatan itu. "Sebanyak 26 travo tidak dialiri listrik, sehingga aliran ke pelanggan terputus," ujar sumber yang tidak bersedia disebutkan namanya.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau