KHAZNAH, IRAK, KOMPAS.com - Dua bom truk yang ditujukan pada sekte kecil di sebuah desa di Irak utara dan serangkaian pengeboman di Baghdad menewaskan sedikitnya 47 orang, Senin (10/8). Insiden-insiden itu mencederai lebih dari 250, kata sejumlah pejabat.
Dalam serangan tunggal paling mematikan, dua truk yang dipasangi bom meledak menjelang fajar di desa Khaznah, sebelah timur kota bergolak Mosul, Irak utara, mengakibatkan 28 orang tewas dan 155 cedera. Ledakan besar itu menghancurkan 35 rumah dan menciptakan lubang-lubang besar di desa makmur yang berpenduduk 3.000 orang itu, yang menjadi tempat tinggal komunitas kecil Shabak, sebuah sekte keturunan Kurdi.
Mosul beberapa kali menjadi sasaran serangan meski kekerasan menurun secara keseluruhan di Irak, dan sejumlah komandan AS menyebut kota itu sebagai pangkalan perkotaan terakhir dari para pendukung setia Al-Qaeda di Irak.
Kota kedua di Irak yang memiliki penduduk sekitar 1,6 juta orang itu dihuni oleh masyarakat yang sebagian besar Sunni -- Arab ataupun Kurdi -- namun juga memiliki penduduk minoritas Turkmen Syiah dan Kristen.
Di Baghdad, dua bom meledak ketika pekerja harian sedang berkumpul pada pagi hari untuk mencari pekerjaan, kata polisi dan kementerian dalam negeri.
Bom pertama, yang disembunyikan di dalam sebuah kantung semen, meledak di Hay al-Amel di daerah barat ibu kota Irak itu, menewaskan tujuh orang dan mencederai 46.
Dalam serangan kedua, sebuah bom mobil di Shurta Arbaa di daerah utara Baghdad menewaskan sembilan orang dan mencederai 36 lain.
Pengeboman ketiga di sebuah pasar di daerah pinggiran selatan Saidiyah menewaskan tiga orang dan mencederai 14 lain.
Kekerasan di Irak mereda dalam 18 bulan terakhir, namun gerilyawan bisa bersembunyi di daerah-daerah pegunungan sekitar Mosul, 390 kilometer sebelah utara Baghdad, dan memanfaatkan perpecahan di antara orang-orang Arab dan Kurdi yang beselisih di kota itu.
Perselisihan di provinsi wilayah utara, Nineveh, yang beribukotakan Mosul, mengancam perpecahan di provinsi itu dan menimbulkan ketegangan yang bisa menciptakan ketidakstabilan jangka panjang di Irak.
Banyak orang Irak juga khawatir serangan-serangan terhadap orang Syiah akan menyulut lagi kekerasan sektarian mematikan antara Sunni dan Syiah yang baru mereda dalam 18 bulan ini. Puluhan ribu orang tewas dalam kekerasan sejak invasi pimpinan AS ke Irak pada 2003.
Jumlah korban tewas akibat kekerasan di Irak turun hingga sepertiga menjadi 275 pada Juli, bulan pertama pasukan Irak bertanggung jawab atas keamanan di daerah-daerah perkotaan sejak invasi pimpinan AS pada 2003.
Gelombang serangan bom yang ditujukan pada muslim Syiah di Baghdad menewaskan 29 orang dan mencederai lebih dari 136 pada Jumat (31/7), sebulan setelah pasukan AS ditarik dari pusat-pusat perkotaan di Irak.
Serangan-serangan akhir Juli itu merupakan yang terburuk di Irak sejak dua serangan bom bunuh diri di kota wilayah utara Tal Afar pada 9 Juli menewaskan 35 orang dan mencederai 61.