Pertama Kalinya Palestina Pilih Pemimpin

Kompas.com - 11/08/2009, 22:32 WIB

BETLEHEM, KOMPAS.com - Para anggota kelompok Fatah, Sabtu (8/8), untuk pertama kalinya memilih pemimpin mereka selama 20 tahun terakhir, dan berharap memperoleh napas baru kehidupan setelah diguncang  perang, kesalahan manajemen serta dikalahkan oleh kelompok Hamas. 

Delegasi-delegasi yang datang ke kongres di kota Tepi Barat Betlehem akan memberikan suara untuk memilih Komite Pusat yang terdiri atas 21 orang, dan 120 anggota Dewan Revolusioner, badan pemerintah Fatah.

Pemungutan suara mestinya dijadwalkan Jumat, tetapi ditunda sehari karena sejumlah besar anggota partai mencatatkan diri sebagai calon.

Presiden Palestina Mahmud Abbas, yang mengambil alih sebagai ketua partai setelah kematian Yasser Arafat pada 2004, diduga akan terpilih kembali, karena para pejabat Fatah menyebutnya sebagai "calon konsensus". Namun, belum ada kepastian bagi pemimpin veteran partai lainnya.

"Angin kuat perubahan bertiup di arena kongres. Dalam pandangan saya, sedikitnya separuh dari anggota Komite Pusat dan Dewan Revolusioner sekarang akan dipilih kembali," kata seorang anggota delegasi, yang minta tak disebut namanya.

Di antara calon terkemuka yang tampak adalah Marwan Barghuthi, sekjen partai di Tepi Barat yang dijebloskan di satu penjara Israel; mantan ketua keamanan pencegahan Jibril Rajub dan Mohammed Dahlan, salah satu orang kuat Fatah di Jalur Gaza.

Sangat diharapkan, di antara 2.000 anggota delegasi terdapat beberapa tokoh senior yang sering dituduh korupsi oleh para anggota muda partai yang didirikan oleh panutan pemimpin Palestina, Yasser Arafat, pada akhir tahun 1950-an.

"Pada akhir kongres, Fatah akan mempunyai pemimpin baru di mana generasi muda akan memainkan peranan penting," kata anggota Fatah terkemuka, Nabil Shaath, yang menulis dalam laman internet kongres.

Fatah, yang menguasai pemerintah Palestina, berpengalaman mempunyai kekuatan yang tak terpecahkan di kalangan rakyat Palestina, sebelum pihaknya kalah berat oleh Hamas pada pemilihan parlemen pada 2006.

Ketegangan hubungan Hamas-Fatah berlangsung lama berkaitan peristiwa Juni 2007, ketika kelompok Hamas menguasai kontrol Gaza setelah bentrokan jalanan sepekan yang mematikan, yang mengikat pangkalan kekuatan Abbas di wilayah Tepi Barat, yang dicaplok oleh Israel itu.

"Semua anggota Fatah akan diizinkan untuk memberikan suara secara pribadi atau wakil, termasuk lusinan orang yang dicegah untuk meninggalkan Jalur Gaza oleh Hamas," kata Shaath.

Beberapa pemimpin Fatah setempat, termasuk Ibrahim Abu al-Naja, Zakaria al-Agha, dan Abdallah Abu Samhadana ditahan dan diperiksa, kata seorang pejabat. Namun, mereka dibebaskan dalam beberapa jam kemudian, katanya menambahkan.

Pertikaian dan tuduhan korupsi makin melemahkan kelompok Fatah selama beberapa tahun terakhir. 

Saat membuka kongres, untuk pertama kalinya selama 20 tahun, Abbas Kamis mengakui kesalahan-kesalahan partai di waktu lalu, dan menyerukan semua pihak untuk memasuki ’awal baru.’

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau