Mega-Prabowo: MK Tak Mampu Menggali Keadilan

Kompas.com - 12/08/2009, 18:56 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kendati menghormati Putusan Mahkamah Konstitusi, tetapi kubu Mega-Prabowo mengaku kecewa atas kekalahannya. Ketua Kuasa Hukum Mega-Prabowo, Arteria Dahlan, menilai Putusan MK ambigu dan tidak memberikan keadilan sesungguhnya. "Mahkamah tidak mampu menggali keadilan. Ini hanya normatif belaka," kata Arteria seusai sidang Putusan MK, di Gedung MK, Jakarta, Rabu (12/8).

Lebih jauh soal langkah hukum yang akan ditempuh Mega-Prabowo sebagai tindak lanjut putusan ini, Arteria mengatakan, hal ini diserahkan sepenuhnya kepada calon presiden Megawati Soekarnoputri. "Ibu (Mega) yang akan bicara nanti," ujarnya.

Sebelumnya, sore ini MK menggelar sidang putusan sengketa Pemilu Presiden 2009. Dalam putusannya, MK menyimpulkan berbagai permasalahan yang diungkit pemohon, Mega-Prabowo dan JK-Wiranto, seperti kekacauan daftar pemilih tetap (DPT), regrouping atau pengurangan jumlah TPS, adanya kerja sama atau bantuan asing, adanya spanduk sosialisasi buatan KPU dengan contreng nomor 2, beredarnya formulir ilegal C1 sebelum proses pemungutan suara berakhir, serta adanya pelanggaran pemilu tidak dapat dinilai sebagai pelanggaran pemilu yang bersifat terstruktur, sistematis, dan masif.

"Hal ini tidak menyebabkan pemilu cacat hukum atau tidak sah," ujar Ketua Majelis Hakim MK, Mahfud MD, saat membacakan Putusan MK.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau