BOGOR, KOMPAS.com — Puluhan warga Perumahan Telaga Kahuripan kluster Candraloka ikhlas memakamkan jasad Dani Dwi Permana (19) di pemakaman umum tanah wakaf mereka di Kampung Sasak, Desa Tegal, Kecamatan Kemang, Rabu (12/8) siang. Pemakaman itu hanya 10 menit berjalan kaki dari bekas rumah keluarga Dani di Blok DD kluster Candraloka.
Adapun Tini Larantika dan Jaka, ibu dan kakak Dani, seusai pemakaman tersebut, meminta agar masyarakat dan bangsa Indonesia memaafkan perbuatan Dani. Keduanya berharap agar masyarakat tidak menghakimi Dani sebagai teroris. Keduanya meyakini Dani adalah korban dari para teroris, yang memanfaatkan kebaikan dan keluguan Dani sebagai seorang remaja.
Entis Sutisna (44), salah seorang pengurus pemakaman wakaf, menuturkan, pihaknya mendapat kabar dari kerabat Dani, yakni permohonan jasad Dani dimakamkan di sana, pada Rabu pagi. Mereka lalu menyiapkan lubang kuburnya dan mencatatkan Dani sebagai warga Perumahan Telaga Kahuripan ke-17 yang dimakamkan di sana.
"Kami para pengurus dan warga di sini setuju. Sebab, banyak dari kami mengenal Dani cukup baik. Kami mengenal Dani sejak dia masih anak-anak. Kami sendiri merasa bersalah tidak dapat menjaga anak baik itu dengan baik, sehingga dia dimanfaatkan teroris," tutur Entis.
Edwin Firmansyah (45) juga merasa bersalah dan kehilangan Dani, yang tanggal 17 Agustus mendatang berulang tahun ke-19. "Saya yang membina dia sejak anak-anak. Saya tahu betul, anak itu sopan dan penurut. Ketika ayahnya bermasalah dengan hukum dan ibunya kembali ke kampung halamannya di Kalimantan, kami yang dititipi untuk mengawasi Dani. Dia bersama beberapa remaja menjadi pengurus masjid dan kami selalu membesarkan hatinya agar dapat lulus sekolah," tutur Edwin.
Entis dan Edwin serta sejumlah warga yang ikut ke pemakaman Dani menyatakan, mereka dan para pengurus Dewan Kemakmuran Majid As Surur kecolongan akibat sangat berbaik sangka dengan Saepudin Juhri, yang mereka nilai sangat alim, fasih menyampaikan dalil-dalil agama Islam, dan pandai membaca Al Quran.
Mereka mengangkat Saepudin Juhri sebagai imam utama masjid tersebut sehingga bebas mendidik anak-anak dan remaja setempat. Saepudinlah yang diduga kuat memengaruhi Dani sehingga anak kedua dari lima bersaudara tersebut menjadi media untuk meledakkan bom di Hotel JW Marriott Jakarta.
Menurut Edwin, saat Dani menghilang pada bulan April lalu, dirinya dan sejumlah tokoh masyarakat serta para pengurus DKM Majid As Surur sudah merasa sangat was-was. Pasalnya, bersamaan dengan itu Saepudin dan keluarganya menghilang juga. Mereka berupaya mencari Dani. Teman-teman Dani bersama Jaka mencari Dani sampai ke Palembang, Cirebon, dan Solo.
"Pokoknya, jika dapat info mengenai keberadaan Dani, kami mengejarnya ke sana. Pertama-tama ke Palembang karena Dani sempat bilang ke sesama marbot bahwa dia akan pulang kampung ke Palembang menemui sanak saudaranya," tutur Edwin.
Belajar dari pengalaman kecolongan Dani ini, lanjut Entis, tokoh masyarakat dan agama di Perumahan Telaga Kahuripan pada Senin malam telah bermusyawarah dan memutuskan untuk lebih berhati-hati menerima warga yang akan berdomisili atau tinggal di perumahan mereka. Semua pihak sepakat untuk mendata ulang dan meneliti asal-usul penghuni baru atau mereka yang berpenampilan fisik atau berperilaku seperti keluarga Saepudin.
Ketua RT dan RW bersama tokoh masyarakat akan meminta data lengkap identitas warga, termasuk keterangan asal-usul domisili sebelumnya.
"Dulu hanya diminta foto KTP kepala keluarga, sekarang harus diminta juga kartu keluarga dan surat pindah mereka. Khususnya bagi mereka yang berbusana khas yakni pakai celana nggantung (di atas mata kaki) dan berjenggot untuk laki-lakinya dan berbusana tertutup dan wajahnya bercadar untuk perempuannya. Keluarga Saepudin Juhri berpenampilan demikian," kata Entis.
Ia menambahkan, di perumahannya ada 15 sampai 20 keluarga yang berpenampilan seperti keluarga Saepudin Juhri. Sejak dipastikan salah seorang pelaku peledakan bom di Jakarta adalah Dani, mereka yang penampilan berbusananya seperti keluarga Saepudin Juhri tersebut tidak terlihat lagi di ruang publik.
"Mereka tidak kelihatan lagi, entah ke mana. Biasanya, ada yang olahraga pagi atau belanja di warung. Sekarang tidak terlihat lagi. Pintu-pintu rumah mereka juga ditutup. Kami tidak tahu, ada orangnya lagi atau sudah kosong. Dulu juga kalau kami mendatangi rumah mereka untuk mengantar surat edaran, kalau tidak ada laki-lakinya, pintu rumah tidak dibuka. Dari dalam rumah, ada suara perempuan yang meminta kami memoloskan surat edaran lewat celah bawah pintunya," kata Entis.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang