Identifikasi Nana Belum Selesai, RS Polri Masih Ketat

Kompas.com - 13/08/2009, 10:47 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Mabes Polri telah mengumumkan para tersangka teroris yang berhasil dibekuk oleh Tim Densus 88. Empat di antaranya tewas. Jenazah Ibrohim, Air Setiawan, Eko Joko Sarjono, dan Dani Dwi Permana juga sudah tak lagi berada di RS Polri Kramat Jati.

Sementara itu, jenazah Nana Ikhwan Maulana (28), pelaku bom bunuh diri di Ritz-Carlton, hingga saat ini masih terbujur kaku di ruang Instalasi Forensik RS tersebut. Polisi belum menyelesaikan proses identifikasi jenazah Nana.

"Data-data ante mortem dari keluarga belum ada sehingga belum bisa dicocokkan dengan data post mortem di RS Polri. Pencocokan ini diperlukan sebagai tahap akhir proses identifikasi," kata Kepala Bidang Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Ketut Untung Yoga Ana, kemarin.

Dari pantauan lokasi, situasi ruang Instalasi Forensik RS Polri masih dijaga ketat. Sekitar dua belas orang personel kepolisian masih berjaga di lokasi. Garis polisi pun masih terpasang pada radius 20 meter. Sementara itu, dua mobil jenazah milik RS Polri sudah disiagakan.

Proses identifikasi Nana belum bisa diselesaikan jika tidak ada keterangan yang diberikan oleh pihak keluarga. Sementara itu, keberadaan keluarga Nana masih simpang siur. Berdasarkan data kepolisian, Nana beralamat di daerah Pandeglang, Banten. Akan tetapi, hingga saat ini tidak diketahui keberadaan dan alamat pasti dari Keluarga Nana.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau