Krisis Terjadi Saat Emas Dicabut Sebagai Back Up Moneter

Kompas.com - 13/08/2009, 13:24 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com-Krisis ekonomi global yang terjadi ternyata ikut mendorong isu keuangan islam ke permukaan. Krisis yang rutin terjadi membuat banyak pihak mempertanyakan efektifitas sistem ekonomi kapitalis.

Pada seminar yang bertajuk "Sharia Economy as a Solution of the Global Economy Crisis," Menteri Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault, mengatakan krisis mulai terjadi saat emas dicabut sebagai back up moneter.

Ia menuturkan sejak tahun 1970 an, dollar telah menggantikan emas. Hal tersebut lah yang menyebabkan krisis berkepanjangan. "Selama dollar tidak ditarik dari cadangan moneter, krisis akan terus berlangsung," ujar Adhyaksa dalam sambutannya, Kamis (13/8) . 

Namun sayangnya, lanjut dia, cadangan devisa saat ini juga disokong dollar yang nilai intristiknya tidak lebih besar dari nominal. Padahal sistem keuangan Islam yang menggunakan emas sebagai alat tukar memiliki nilai stabil. 

Menurut Adhyaksa, industri keuangan syariah mampu bertahan saat krisis ekonomi global membuatnya dilirik sejumlah pelaku usaha. Ekonomi Islam juga dipandang sebagai alternatif atau bahkan solusi dari krisis ekonomi. Saat banyak lembaga keuangan mengalami kebangkrutan, lembaga keuangan yang menerapkan sistem syariah mampu bertahan. 

Adhyaksa menilai, dengan menjalankan prinsip-prinsip Islam, maka fenomena kebangkrutan bank kapitalis dapat dihindari. Pasalnya sistem ekonomi Islam melarang riba dan meghalangi praktik lintah darat. "Sistem keuangan khalifah tidak mengenal sistem ribawai," kata Adhyaksa.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau