Sulit Air, Puluhan Hektar Tanaman Jagung Gagal Panen

Kompas.com - 13/08/2009, 20:28 WIB

BREBES, KOMPAS.com - Akibat kekurangan air, puluhan hektar tanaman jagung dan cabai merah di Desa Wangandalem, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes dan di Desa Randusari, Kecamatan Pagerbarang, Kabupaten Tegal gagal panen. Daun tanaman jagung meranggas dan mengering, sehingga j agung yang dihasilkan kecil-kecil. Sebagian petani memilih membiarkan tanaman mereka mati, karena perkiraan hasil panen yang diperoleh sudah tidak mencukupi untuk menutup biaya tanam.

Ruswad (56), petani di Desa Wangandalem, Kecamatan Brebes, Kamis (13/8) mengatakan, rata-rata tanaman jagung di wilayah tersebut berusia sekitar dua bulan. Seharusnya dalam satu bulan ke depan, tanaman tersebut siap panen.

Namun karena batang dan daun tanaman mengering, jagung yang dihasilkan kecil-kecil. Bahkan, sebagian tanaman tidak berbuah. "Ini wurung (tidak menghasilkan), tidak laku dijual," ujarnya.

Menurut dia, kondisi tersebut akibat tidak tersedianya air secara memadai. Sejak sebulan lalu, air irigasi dari bendung setempat sudah tidak mengalir ke sawah. Tadinya sempat gilir, tetapi air tidak sampai ke sini, katanya.

Petani tidak membuat sumur bor untuk alternatif pengairan, karena biaya pembuatan sumur bor sangat mahal, mencapai sekitar Rp 3 juta per unit. Pasalnya untuk mendapatkan air, kedalaman sumur harus mencapai sekitar 60 meter.

Surwad (50), petani lainnya mengaku memilih membiarkan tanaman jagungnya mati. Padahal, ia sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp 300.000 untuk mengolah lahan seluas sekitar 1.000 meter persegi.

Dalam kondisi normal, biasanya hasil panen jagung dari lahan tersebut bisa mencapai sekitar Rp 700.000. Petani biasa menjual jagung dengan sistem tebas atau penjualan secara borongan dengan harga taksiran di sawah. Sekarang dapet Rp 100.000 saja sulit, jagungnya kecil-kecil. Mungkin malah tidak ada yang mau beli, tuturnya.  

 

Terserang Ulat

Menurut Surwad, keterpurukan tidak hanya dialami petani jagung, tetapi juga cabai merah. Akibat kurang air, tanaman cabai hanya bisa dipetik sebanyak lima kali. Padahal biasanya, tanaman cabai merah bisa dipetik hingga 15 kali.

Cabai juga bolong-bolong (berlubang), karena kena lalat buah, kata Sukirah (40), petani lainnya. Kondisi tersebut juga diperparah dengan rendahnya harga cabai merah, yang hanya sekitar Rp 2.000 per kilogram.

Kepala Desa Wangandalem, Kecamatan Brebes, Sutanto mengatakan, luas lahan pertanian di wilayahnya mencapai sekitar 90 hektar. Selain ditanami jagung dan cabai merah, petani juga menanam kedelai, kacang hijau, dan bawang merah.

Menurut dia, hampir separuh tanaman di wilayah tersebut rusak, akibat kekeringan. Selain itu, sebagian tanaman jagung juga gagal panen karena terserang jamur.

Gagal panen pada tanaman jagung juga dirasakan petani di Desa Randusari, Kecamatan Pagerbarang, Kabupaten Tegal. Marzuki (57), petani di wilayah tersebut mengatakan, selain kekurangan air, tanaman jagung miliknya juga terserang ulat. Akibatnya, daun tanam an berlubang, sehingga pertumbuhannya tidak optimal.

Seharusnya pada usia dua bulan, tanaman jagung sudah berbunga. Namun saat ini, hanya sebagian kecil tanaman yang sudah berbunga.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau