Angkat besi

Sepenggal Cerita dari Pringsewu

Kompas.com - 14/08/2009, 04:29 WIB

Angkat besi adalah cabang olahraga penting bagi Indonesia. Di cabang ini, Indonesia berpeluangmeraih medali dalam olimpiade. Membicarakanangkat besi, nama Imron Rosyadi dan Pringsewu,sebuah daerah di Lampung, tidak boleh luput darisemesta pembicaraan.

Pringsewu yang baru tahunlalu resmi menjadikabupaten berjarak 50-60 kilometer dari ibu kota Provinsi Lampung, Bandar Lampung. Hampir semua orang di Pringsewu tahu di mana letak padepokan angkat besi milik Imron Rosyadi.

Padepokan bernama Gajah Lampung ini berdiri tahun 1960-an. Orang mulai banyak berlatih di tempat itu pada akhir 1970-an. Sejak itu, Gajah Lampung tidak pernah berhenti menghasilkan atlet nasional.

Gajah Lampung berlokasi di Jalan Ahmad Yani. Padepokan persisnya berada di halaman belakang Gajah Motor, bengkel yang sekarang dikelola putra Imron, Edy Santoso. Sehari-hari, Edy juga ikut melatih.

Menghidupi

Jangan pernah membayangkan Gajah Lampung hanya sebagai tempat latihan atlet angkat besi (weightlifting) dan atlet angkat berat (powerlifting). Lebih dari itu, di tempat ini, puluhan orang menghidupi diri dari angkat besi dan angkat berat.

Gajah Lampung berkembang sedikit demi sedikit. Dari hanya tempat latihan yang seadanya pada puluhan tahun silam, padepokan itu kini dilengkapi bangunan dua lantai yang memiliki belasan kamar sebagai asrama.

Ada 15 kamar yang tersedia di Gajah Lampung. Sembilan kamar untuk pria dan enam kamar untuk putri. Tiap kamar dihuni oleh dua atau tiga orang. Jumlah anggota padepokan kini 30-an orang. Jumlah orang yang berlatih setiap hari lebih dari itu karena anggota padepokan yang masih duduk di bangku SD dan SMP tidak tinggal di asrama.

Menurut Edy, mereka yang tinggal di padepokan mendapat jatah konsumsi Rp 35.000 sehari. ”Mereka bisa makan di rumah makan di sekitar padepokan dengan biaya Rp 35.000 sehari. Bahkan, untuk atlet-atlet tertentu, bisa makan hingga Rp 55.000 sehari,” ujar Edy.

Padepokan menggelar latihan setiap hari kecuali Kamis dan Minggu. Latihan berlangsung dua kali sehari. Sesi latihan pagi dimulai sekitar pukul 07.30, yang diawali dengan pemanasan. Setelah itu, barulah anggota padepokan memasuki latihan inti.

Sesi latihan sore berlangsung pukul 16.00-17.30. Sekitar pukul 15.30, atlet mulai menyiapkan sarana latihan. Setelah itu, mereka melakukan senam bersama sebelum menjalani latihan inti.

Atlet angkat berat menempati pojok terpisah di arena latihan. Jumlah mereka lebih sedikit ketimbang atlet angkat besi.

Latihan inti angkat besi bervariasi, bergantung dari kategori anggota padepokan. Untuk atlet nasional dan Program Atlet Andalan (PAL) yang kenyang membela Indonesia di ajang internasional, mereka terus-menerus mengasah teknik angkatan snatch dan clean & jerk.

Lain lagi dengan anak SD dan SMP yang baru bergabung tidak sampai dua bulan silam. Mereka baru diperkenalkan dengan teknik snatch serta clean & jerk. Alat yang dipakai biasanya besi tanpa barbel. Melakukan angkatan secara benar menjadi fokus latihan pada level ini.

Rival, siswa SMP, saat ditemui pada akhir Juli, baru dua minggu berlatih di Gajah Lampung. Ia berulang kali melakukan angkatan snatch dengan barbel ringan.

Rival bergabung karena tertarik dengan apa yang tiap hari berlangsung di padepokan. Ia dan teman-teman sebayanya belum tinggal di asrama padepokan.

Bagi Mohammad Syah (25), atlet angkat berat, situasi yang dialami Rival mirip dengan pengalamannya sembilan tahun silam. Waktu itu, ia baru mulai menjalani latihan di padepokan.

Motivasinya sederhana, ingin mencoba latihan setelah beberapa kali mengantarkan adiknya, Eka, yang kini juga menjadi atlet nasional angkat berat. Tanpa terasa, Mohammad Syah, peraih emas PON 2008, sudah sembilan tahun hidup dan tinggal di Gajah Lampung.

Berkat prestasinya dalam PON 2008, ia mendapatkan hadiah uang Rp 70 juta. Sekitar Rp 50 juta habis untuk membeli tanah. Sisanya dititipkan di padepokan. ”Kalau enggak dititipkan, uang bisa habis enggak jelas,” ujarnya.

Edy mengatakan, latar belakang keluarga anak-anak yang bergabung dengan Gajah Lampung beragam. Akan tetapi, semuanya berasal dari kalangan menengah ke bawah. Ada yang berasal dari keluarga petani kecil hingga tukang becak.

Sangat keras

Untuk terus menambah motivasi anggota padepokan dalam berlatih, menurut Edy, ayahnya, Imron, selalu mengingatkan bagaimana Gajah Lampung memberi sumber penghasilan penting bagi anggota padepokan.

”Papa sangat keras dalam mendidik anak-anak. Seperti latihan sekarang, kalau ada Papa, enggak mungkin anak-anak bisa bersenda gurau,” ujar Edy sembari mengawasi latihan atlet senior. Sesekali ia mengingatkan atlet yang kurang sempurna dalam melakukan angkatan.

Di pojok lain, sekitar 10 anak SD dan SMP berlatih dengan didampingi Yon Haryono. Ia tidak lain adalah pelatih peraih perunggu Olimpiade 2008, Eko Yuli Irawan dan Triyatno. Kedua atlet ini dilatih Yon di Metro, Lampung, saat mereka baru melakoni satu tahun pertama di dunia angkat besi, sekitar 2001. Eko dan Triyatno sekarang berlatih di Kalimantan Timur.

Yon tinggal di Metro (sekitar 60 kilometer dari Pringsewu) dan memiliki sasana sendiri di sana. Beberapa waktu terakhir, Yon dimintai tolong oleh Imron membantu latihan di Pringsewu. Tiap dua minggu sekali Yon pun naik motor dari Metro ke Pringsewu.

Bagi Yon, Pringsewu dan Gajah Lampung bukan tempat asing. Selain lahir di Pringsewu, Yon pada 28 tahun silam juga menjalani latihan angkat besi pertama kali di Gajah Lampung.

Pelatih lainnya adalah Imam Santoso, adik Edy, dan Catur Meistudy. Biasanya, Imron juga hadir dalam latihan. Namun, akhir Juli hingga awal Agustus, ia berada di luar negeri menghadiri kejuaraan internasional.

Gajah Lampung tidak pernah sepi. Suara barbel jatuh, suara batang besi yang menggelinding selalu terdengar. Tanpa henti dan tidak peduli dengan situasi pembinaan olahraga nasional yang kadang naik dan kadang turun, padepokan ini terus berusaha menyumbangkan apa yang bisa disumbangkannya.

Papan putih dipasang di Gajah Lampung. Tulisan di papan itu cukup menggetarkan hati: ”Hormatilah sanggar ini karena sanggar latihan ini adalah tempat kami menimba ilmu, menempa jasmani, menggembleng mental, untuk mewujudkan seorang ksatria olahraga yang selalu siap membela Sang Saka Merah Putih. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan petunjuk dan bimbingan serta kekuatan kepada kami”.

(A Tomy Trinugroho)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau