Keahlian Noordin Terwariskan

Kompas.com - 14/08/2009, 05:00 WIB

JAKARTA, KOMPAS.comKemampuan Noordin M Top dalam merekrut dan merencanakan pengeboman kemungkinan besar telah terwariskan ke pendukungnya. Dengan demikian, sekalipun suatu saat warga negara Malaysia itu tertangkap, tak berarti ancaman teror di Indonesia tamat.

Hal itu diyakini Nasir Abas, bekas anggota Jemaah Islamiyah, dalam peluncuran bukunya, Memberantas Terorisme, Memburu Noordin M Top, di Toko Buku Leksika, Jakarta, Kamis (13/8).

Menurut Nasir, kemungkinan besar saat ini Noordin tak perlu lagi merekrut sendiri orang-orang yang bersedia mendukung ”proyek” pengebomannya. Perekrutan sudah dilakukan pengikut atau pendukungnya. Dengan disiplin yang kuat dalam menjaga rahasia di antara pengikutnya, ”proyek” itu dapat berlangsung sesuai dengan rencana mereka.

Saifudin

Sementara itu, penyelidikan polisi menunjukkan, perekrutan kelompok teroris pengebom Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton lebih banyak dilakukan pihak lain ketimbang Noordin.

Sosok Ibrohim—penata bunga di Hotel Ritz-Carlton—misalnya direkrut oleh saudara iparnya sendiri, yaitu Saifudin Zuhri bin Jaelani Irsyad (bukan bin Ahmad Jaelani) atau juga disebut Saifudin Jaelani.

Saifudin, yang sempat tinggal di Perumahan Telaga Kahuripan, Kemang, Bogor, juga pernah bersekolah di Yaman. Nama ini berbeda dengan Saefudin Zuhri (alias Abu Lubaba) yang ditangkap di Cilacap, Jawa Tengah, 21 Juni.

Demikian pula dengan Amir Abdillah alias Ahmad Fery Rhamdani, tersangka yang ditangkap di Semper, Jakarta Utara, 6 Agustus lalu. Amir pernah menikah dengan kerabat Saifudin. Sementara itu, dua pelaku bom bunuh diri, Dani Dwi Permana (19) dan Nana Ichwan Maulana (28), juga direkrut oleh Saifudin, yang kini dalam buruan polisi.

Meskipun orangtua Saifudin asal Cilimus, Kuningan, Jawa Barat, nama Saifudin tak tercantum di kartu keluarga. Selain Saifudin, masih ada satu orang lagi berinisial S yang juga diburu polisi terkait pengeboman 17 Juli lalu.

Masih menyelidiki

Terkait itu, Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Nanan Soekarna mengatakan, Polri masih menyelidiki hal itu bekerja sama dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan.

Di Semarang, Jawa Tengah, Nanan mengemukakan, polisi masih mendalami keterlibatan Muhjahri, pemilik rumah tempat persembunyian teroris di Temanggung. Jika Muhjahri terbukti tidak terlibat jaringan teroris, kepolisian akan membantu mengganti rumahnya yang rusak parah.

”Kalau Muhjahri dan keluarganya terbukti terlibat, tentu ada pertimbangan lain,” kata Nanan.

Selain Polri, TNI juga akan mensosialisasikan bahan-bahan yang menjadi komponen bahan peledak. ”Diharapkan, masyarakat pun nantinya akan lebih waspada jika melihat ada orang-orang di lingkungan mereka yang membeli bahan-bahan kimia khusus di toko,” ujar Panglima Daerah Militer IV Diponegoro Mayjen Hariyadi Sutanto di Akademi Militer Magelang.

Perketat pengawasan

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Kuningan akan memperketat pengawasan warga dan pendatang di kecamatan dan desa-desa yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah. Tujuannya, memperkecil kemungkinan pergerakan teroris yang diduga sudah mempunyai jaringan di Kuningan.

Bupati Kuningan Aang Hamid Suganda, Kamis, mengatakan, terlibatnya salah seorang warga Kuningan, Ibrohim, dalam jaringan teroris bom bunuh diri telah meresahkan Kuningan. Banyak persepsi masyarakat muncul bahwa Kuningan merupakan sarang teroris. Oleh sebab itu, aparat kelurahan, desa, hingga kampung agar lebih jeli mengawasi dan lebih memperketat mobilitas penduduknya.

Sementara itu, Kepolisian Wilayah Kediri, Jawa Timur, memberlakukan kembali kewajiban melapor bagi setiap pendatang baru atau warga asing.

Kewajiban melapor itu berlaku untuk setiap tamu dan warga setempat pemilik rumah yang kedatangan tamu. Bahkan, warga juga diminta melaporkan apabila terdapat warga yang baru pindah rumah atau penghuni kontrakan baru dengan aktivitas yang mencurigakan.

(SF/NIT/DEN/EKI/EGI/THT/NIK)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau