Pendukung Zelaya Bentrok dengan Aparat

Kompas.com - 14/08/2009, 05:55 WIB

TEGUCIGALPA, KOMPAS.com - Pendukung Presiden Honduras yang digulingkan, Manuel Zelaya, hari Selasa dan Rabu (12/8) bentrok dengan tentara dan polisi. Beberapa di antara para pendukung itu bahkan menyerang anggota Kongres.

Para demonstran melemparkan batu dan polisi membalas dengan gas air mata untuk membubarkan massa. Sekelompok demonstran lain menendang dan memukuli Ramon Velazquez, wakil ketua Kongres, saat dia akan meninggalkan kantornya.

”Polisi dan tentara menyelamatkan saya dari para penyerang,” kata Velazquez. Menjelang siang, demonstrasi pun mereda.

Istri Zelaya menghadiri demonstrasi pro-Zelaya lainnya hari Rabu di kota industri San Pedro Sula di Pantai Karibia. Demonstrasi ini dibubarkan polisi dengan tembakan gas air mata.

Digulingkannya Zelaya 28 Juni itu telah membawa Honduras ke dalam krisis politik terburuk di Amerika Tengah. Zelaya digulingkan setelah lawan-lawan politiknya menuduh Presiden Honduras itu mencoba mengganti konstitusi untuk memungkinkan dirinya terpilih kembali.

Perundingan untuk mengatasi krisis, yang dimediasi Presiden Kosta Rika Oscar Arias, sejauh ini tidak menghasilkan banyak kemajuan. Itu karena pemerintah de facto yang dipimpin mantan ketua Kongres Roberto Micheletti menolak kembalinya Zelaya ke tampuk kekuasaan walau dunia internasional mengecam kudeta itu.

Protes hari Selasa dan Rabu oleh aktivis pro-Zelaya menyebabkan kaca jendela toko dan restoran cepat saji pecah dan membuat para demonstran berlarian menyelamatkan diri dari asap gas air mata.

Dalam sebuah pidato yang disiarkan televisi secara nasional, Micheletti mengecam bentrokan itu telah ditunggangi ”agitator- agitator asing”. Meski demikian, Micheletti berjanji menghormati hak asasi mereka yang ditahan dalam demonstrasi itu.

Polisi mengatakan, 55 demonstran ditangkap selama bentrokan itu dan 40 lainnya ditahan di sebuah sekolah tinggi pendidikan guru, tempat para pendukung Zelaya tidur. Polisi mengatakan, mereka tengah menyidik laporan yang mengungkapkan bahwa para demonstran itu membuat bom molotov di laboratorium sekolah tinggi tersebut.

Sekitar 10.000 demonstran tiba di Tegucigalpa hari Selasa setelah melakukan aksi jalan kaki sepekan lamanya melintas Honduras. Mereka menggalang aksi demo untuk mendukung kembalinya Zelaya.

(AP/Reuters/AFP/DI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau