Dicurigai Teroris, Tiga Lelaki Berjenggot Diusir Warga

Kompas.com - 14/08/2009, 15:07 WIB

BANYUMAS, KOMPAS.com — Tiga lelaki berjenggot berpakaian jubah dan celana ngatung (di atas mata kaki) yang datang di Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Banyumas, diusir warga. Warga curiga ketiga orang ini bagian dari jaringan terorisme.

Pada Jumat (14/8) pagi sekitar pukul 07.00, ketiganya dipaksa untuk meninggalkan desa tersebut setelah sebelumnya pihak kepolisian yang didampingi Kepala Desa setempat, Sarjono, melakukan interogasi kepada ketiganya.

Cerita ini bermula ketika pada sekitar pukul 16.00 kemarin, kedatangan ketiga lelaki itu mengundang perhatian warga. Tak menunggu lama, beberapa warga lantas mengadukan kecurigaan itu kepada Sarjono. Mendengar laporan itu, Sarjono pun langsung berangkat ke Polsek Ajibarang.

Polisi lantas mendatangi ketiganya. Mereka berada di rumah seseorang bernama Erwin di Dusun Karang Pucung, RT/RW 4/4, tempat ketiganya singgah. Pemuda berusia 22 tahun itu pun dikenal sebagai figur yang tertutup. Ia tinggal di pinggir hutan jati milik Perhutani. Tempatnya terpencil, dan jarak terdekat dengan perkampungan mencapai dua kilometer.

Dari pemeriksaan polisi, diperoleh data, ketiga orang itu adalah DD (33) warga Desa Kedungsuku, Ciamis, Jawa Barat; SD (36) warga Demak, Jawa Tengah; dan AD (30), warga Dukuh Waluh, Banyumas, Jawa Tengah. Semuanya mengaku sebagai peziarah yang sedang melakukan perjalanan untuk mengunjungi sejumlah makam.

Di dalam tas mereka hanya ditemukan sejumlah baju ganti, kitab suci Al Quran, dan buku mengenai sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa. Mereka sempat menjalani interogasi. Kecurigaan pun bertambah saat pada SD dan AD ditemukan kejanggalan.

Dalam KTP SD disebutkan ia dilahirkan tahun 1976. Namun, fisiknya seperti lelaki berumur lebih dari 50 tahun. Sementara itu, AD tak memiliki KTP dan hanya bisa menunjukkan surat nikah dengan seorang perempuan di daerah Dukuh Waluh, Banyumas. "Mereka mengaku sedang melakukan ziarah ke makam-makam, mereka mampir ke rumah Erwin karena sudah mengenalnya saat berziarah di makam Sunan Gunung Jati, Cirebon," kata Sarjono.

Aparat kepolisian tidak menahan ketiganya, tetapi hanya mencatat identitas, dan mengambil foto mereka. "Terus terang, warga kami resah dengan kehadiran mereka. Karena itu, sebagai aparat desa, kami menindaklanjutinya dengan meminta tiga orang itu pergi dari desa kami," ujar Sarjono.

Setelah diusir, SD melanjutkan perjalanan untuk berziarah ke makam Ma'dum Ali di Karang Lewas Banyumas. Sementara itu, dua rekannya tak diketahui tujuannya. Pihak kepolisian pun meminta agar warga ikut mengawasi Erwin.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau